Pernah Merayap Subuh

Saat mata masih ingin memeluk selimut dan bantal guling.Wanita separuh baya itu dengan mata melotot menerobos subuh yang riuh tentang kokok jago.Dengan beribuh gumam dalam kekalutan jiwa yang mungkin ingin meronta tentang lelap yang ditiduri orang lain.

Wanita itu dengan tangan gemulai mendiami arang dari jago merah yang merambat lunglai.Merapikan kain yang ingin dicumbuhi benda tua bekas peninggalan sejarah.Setiap gesekan yang berirama dengan pola maju mundur dengan genggaman yang lentur.

Ingin kumemeluknya saat itu ketika air mata bening merayap luguh pada bibir.Tentang kenangan yang tak perna diulas oleh hari yang berlalu.Tangan yang lazim menyentuh benda tua dan tak ingin mengubah cerita baru tentang benda modern yang tak perna mendamaikan jago merah.

Aku rindu dengan semua kisah subuh yang hening.Merayap lembut oleh tangan penyayang yang menjinakkan besi tua.Tak perna sedikitpun mengeluh tentang keringat subuh dan hitamnya arang yang melekat pada tangan yang berbalut kesejukan.