Tentang Kehampaan

Gambar:Foto keluarga

Menukik setiap tumpukan kata yang berserakan pada trotoar rak buku perpustakaan.Namun tentang kata yang tak pernah kita sudahi selepas penat,namun terus menjadi candu dalam kegersangan keluh.Hanya ini yang dapat terlukis semenjak kepergian petugas perpustakaan idamanku.

Untuk sekian waktu,menit bahkan detik akan kujejerkan pada deretan kursi kayu di temani bangku berlapis kaca tembus pandang.Gerahan rasa yang mengumbar keluar tuk sedikit menengok wajah manisnya yang tak dapat kurangkaikan dalam setiap sajak bait puisi.Inginku pergi membujuk penyair terkenal yang pernah diceritakan olehnya,bahwa itu kakeknya yang lama terbaring.

Genggamlah tanganku dan kita akan mengarungi jalanan bebatuan yang pernah kakekku ceritakan sebelum malam membunuhku untuk beberapa saat.Tanpa beribuh komentar yang menggeliat soalah menimang setiap huruf yang terangkum kata dan kemudian kalimat darinya,kakiku lebih dahulu dipoyong.Yang harus kamu ketahui bahwa kita akan lama menghabiskan waktu di sana,dimana kakekku akan membusahkan mulutnya menyata tentang hidup yang tak seindah puisi.

Ia,demikian kataku selepas memuncratkan kata agar terlihat kekar berujar menahu.Ungkapan tentang yang tahu dan yang tidak tahu namun terlihat tahu.Ujaran demikian akan kamu pahami,bahwa mereka akan terlihat seperti budak kata dan tentang pecandu luka yang menunggu kewarasannya.

Ketika Dunia Ingin Dipahami

Gambar:Foto sendiri

Sendiri menatap kosong pada setiap mata yang berkaca.Kemudian bercerita sambil belepotan dengan tengil hingga separuh jiwa ingin bersetubuh bumi hampa.Ingin dipahami namun tak memahami hingga hanya kesendirian yang meratap ramai di sana-sini.

Mereka berkata tentang ulasan janji yang terdahulu,namun tak pernah sedikitpun meratapi kesendirian itu.Kita hanya onggokan kisah yang mungkin akan dipungut namun bukan untuk dipermainkan.Kita punya kisah yang berbeda yang dapat dilaruti bersama waktu.Namun bukan berarti hanya kau yang memonopi sampai dunia tak memaafkan.

Ini hanya sepenggal rupa dalam keharusan yang mesti kita rundingi.Mungkin kita dapat meminjam meja bundar di den hag agar porosnya dapat diketemukan.Agar kita tak lagi menyepeleh tentang setiap hamparan belenggu yang dirundingi.

Manatap Dari Tepi

Gambar: foto sendiri

Sempat ada hasrat malu yang kian menggerogoti hati yang basah kuyup oleh gengsi yang menimbun.Tak sempat kupayungi dengan beribuh juta kisah yang menggigil.Ada setiap timbunan yang mengembun pada bejana tanah yang lama digenangi.

Kisah itu demikian rumit tuk dijalani bahkan diceritakan sekalipun.Namun tak pernah kupungkiri sebab dan akibatnya yang hanya dapat diaminkan dalam sekejap mata.Kita tak luput dari dusta yang kemudian kita telanjangi dan mengajak orang lain tuk ikut menertawakan.

Inilah kita yang mengukir kisah bodoh dan kemudian aneh tuk digeluti.Aku sengaja berkicau tentang kebimbangan yang demikian rumit.Kita demikian terus berkaca pada keretakan yang membingkai pada dataran jiwa dan raga yang hampa.

Kepada Malam

Kompasiana.com

Aku ingin bernasar pada setiap keluh seorang penikmat senja yang murung oleh malam merenggut senja.Ada suara-suara yang pernah meneriaki hati tuk bisa tersinggung.Itu semua telah kuanggap mimpi yang belum sempat terekam hingga aliran darah ikut mengumbar keraguan.

Kembali kukatakan tentang ketelanjangan yang membuat mata tak ingin menepih.Tangan ingin meraut serpihan kain yang menempel pada depan pinggul.Ingin kugenggam dengan erat dan akan kurasakan debaran hasrat oleh kuping yang labil.

Aku ingin memagut malam itu seperti naluri yang liar memagut bayang dan hayal.Seperti penikmat kopi yang lihai menyentuh bibir cangkir hingga tak pernah lepas pada ganggang cangkir.Aku tak ingin kita hanya bersua pada saat ini saja namun tetap untuk esok.

Naluri Berkata

Pixnio.com

Garah yang terus menggerogoti kemudian memaksaku untuk pergi dan melupa.Memanggil bening langit untuk bersama menyapuh tapak yang membekas.Kita tak seharusnya menyata tentang tawa yang berkepanjangan namun juga tentang jenuh yang menciut.

Pergilah sejauh kaki kuat mengayuh sepeda ontel milik tuanmu.Carilah tempat yang paling sepi,hanya kamu sendiri yang menatap bugil dan indahnya seluruh pernak-pernik tubuhmu.Ada handphone yang selalu menjadi sahabat sohibmu,menonton video porno yang menggairahkan hati.

Bersandar di pangkuan yang setidaknya menyamankan jiwa di terik penakluk salju.Telanjang dada dan menatap dengan kosong pada kejauhan mata yang meneropong penat.Sesekali tangan diayunkan pada posisi strategis dan membuat ketagihan.

Semua menjadi milikku saat itu,melukai diri dengan suasana damai hati yang tak seharusnya di ajak minum jus mangga.Setidaknya menambah napsu lidah yang ingim memagut setiap insan yang mengganggu saat itu.Namun itu hanya ilusi yang berkepanjangan dan aku masih sendiri menatap tubuh bugil yang sedari tadi tak ingin aku kotori pada lumpur musim hujan.

Aku tak ingin terlihat dekil hanya karena napsu yang membanjir.Ingin kugoreskan tulisan pada kertas kusam bahwa aku pernah ke tempat ini.Dan pernah menanam benih yang sudah lama kumimpikan tuk kubenamkan pada dasar tanah yang menggundul.

Ada Celotehan Gerimis

Hipwee.com

Suara jadi senin kamis tuk ingin didendangkan bersama gerimis yang ikut berdentang.Desahan yang haampir tak didengarkan lagi dengan jelas terbungkam oleh cerita yang menikam.Tentang rindu yang tak kesampaian diumbar seperti kecap bango yang tak mengingkari.

Setitik dari goresan raut wajah di bayangku terus terlihat.Kelopak mata lupa digerakkan karena ada suara pengganggu yang membisingkan dahaga.Sedikit demi sedetik kata yang ikut menegaskan kemunafikan rasa yang membopeng.

Kami tak saling bersama saat itu namun rasa tak pernah ingin pergi walau buah bidara tak mungkin biji dua.Tentang kemelut yang menggumpal bersama adonan cinta yang sedari tadi dipoles oleh tangan lembut miliknya.Kini aku masih terduduk pada posisi yang tak seindah pengantin di pelaminan,namun setidaknya aku mampu mengumbar celotehan yang akan menyejukan hati yang gersang.

Sempat ada lelehan cairan susu yang dilepoti pada bibir bocah tetangga kamar.Menjadi kegelihan yang memuncak untuk waktu yang membeku di gerimis terik.Mungkin akan datang pelangi jika ada perpaduan yang membias,begitu pula cinta yang didesak tuk memagut dalam bayang nyata.

Kata mimpi kita yang terbuai namum tidak dengan hati terdalam yang ingin digebuk janji.Akan kukabari pada langit yang tak selalu biru bahwa kita butuh gerimis agar celotehan kita dapat terlarut.Kita tak ingin malam hanya senyi dan bayang hanya rentetan kata yang akhirnya disapa pemberi harapan palsu.

Cinta Tanpa Kejujuran

Hipwee.com

Bernostalgia pada kisah yang belum tuntas terungkap,kata panggung drama apa yang mesti dikatakan kita mesti katakan.Namun itu semua hanya kalimat penghias yang menurutku tak berfaedah dan basi.Orang sepertiku tak butuh kalimat bijak,karena semua itu akan membuat muak dan muntah.

Sungguh dramatis sekali jika orang baru yang mengenaliku dan terlanjur mengada-ngada tentang siapa aku sebenarnya.Aku memang bisa dikatakan blagu,namun tidak pada semua kategori kegiatan dan perbincangan.Aku selalu tahu memposisikan diri,kepada siapa dan dimana aku harus terlihat nyeselin.

Pernah terjadi kisah yang menurutku lucu namun membuat baper yang berkepanjangan hingga dia menikah.Jujur aku dikejar oleh gadis-gadis pada saat itu.Padahal aku tidak ganteng amat,namun manis dan tentunya bikin klepek-klepek.

Pernah aku menolak dan menganggap semuanya itu aneh dan lucu,masa masih seumuran SD kelas VI,merasakan sebuah sentuhan cinta yang kurasa tak seindah percintaan anak-anak SMP dan SMA.Namun itulah yang kurasakan saat itu,berangsur waktu membawa kami pada sebuah amarah dan dahaga cinta yang luar biasa.

Aku mengkhianati dia yang menurutku begitu mencintaiku,namun tak kesampaian juga semua cinta itu.Aku berujar cinta tidak pada tatapan mata face to face,namun melalui perantara teman ( jembatan ).Menurutku ini masih kategori cinta tanpa kejujuran,karena tidak secara bibir berdua berucap jujur.

Semua itu,kini berlajut kembali saat dunia berkata pantas namun hati berujar malu dan takut ditolak.Apakah yang membuat semuanya dapat kita gambarkan dalam fenomena cinta abal-abalan dan pengecut.Namun sesungguhnya waktu belum pernah berunding denganku tentang rentetan kisah yang semestinya kami goreskan tentang dirinya dan diriku yang belum bermunculan tuntas ke permukaan.

Madu Malam

Maduasli.co.id

Telah lama kuingin dibelai saat melihatmu pergi entah kemana.Melototi setiap pergerakan yang membuat libidoku naik seketika.Semuanya terasa nikmat jika waktu mengizinkan dirimu bersamaku untuk sekian menit.

Aku juga melihat perlakuan anehmu yang selalu ditunjukan melalui ekspresi dan pakaian yang dikenakan.Selalu ada lekukan dan bolongan yang tak pernah mengingkari hati ingin melunasi dahaga kehausan.Namun semua itu telah berkahir dengan nyalihku yang tak sebesar orang lain.

Tentu mereka yang sepaham dan dapat memahami pola pikir dan tingkah dapat menerobosi dengan mudah.Tidak denganku yang selalu takut pada dunia dan cemoohan yang akan membuat muka tak dapat diselipkan pada secarik notes.Mungkin belum saatnya kita akan berucap jujur pada setiap hasrat yang lama kita pendam bersama.

Tentu sangat menawan dan indah jika kelak semua tubuh ingin dilumat bersih.Celah yang tersembunyipun dapat dirayapi dengan segelintir kepandaian dari liur yang membasahi dan bibir yang menyapuh hirup.Nikmat tentunya dan kita akan meniduri detik dengan segelintir lumatan dan tikaman yang sedangkal mungkin hingga desahan menjadi penyempurna setiap polesannya.

Dari Trotoar Jalanan

Wysetc.org

Jalanan yang tampak ramai tak mampu membendung raga kalut.Trotoar menjadi tapak nostalgia rindu yang menghantarkanku pada perhentian di tepian jalanan itu.Untuk kedua kalinya aku masih ingin bersanding mengukir kenangan dari tepian trotoar yang telah berlalu.

Tempat paling menyenangkan ketika hati sedang gundah merana.Antara tawa dan tangis beda tipis saat itu.Ungkapan jujur pada yang bertanya tak sedetail senja sejenak memamerkan indahnya ketika malam redup merenggut pamit.

Trotoar tampak asing saat beribuh mata terpana melototiku.Usapan wajah galau kian mencolok hingga tak ada yang menertawakan ulahku malam itu.Sesekali menimang kata lugu yang berkata tentang penantian yang tak kunjung datang.

Genggaman erat tangan kemarahan menghardik suara lirih itu.Aku bukan menanti namun sekedar mengenang beribuh jejak yang telah tertapaki.Hingga tangis sekejap menjadi tawa ketika menghampiri trotoar jalanan sepi itu.

Dan untuk sekarang aku tak bisa berkata tentang nuansa rasa lain yang dapat menggantikan.Hanya trotoar dab trotoar yang memahami kegundahan hati.Entahlah sampai kapan,yang pasti kemarin dan saat ini masih trotoar jalanan yang mengajariku banyak hal tentang dari dan kepada.

Jaket Lampiasanku

Lazada.co.id

Malam itu entahlah yang kesekian kalinya diriku masih ingin bersama dengan malam yang mengajariku arti kenikmatan yang sesungguhnya.Dilumati saat malam masih meniduri mimpi yang tak seindah gerakan sepoi yang mengagetkanku.Terasa sesuatu yang menusuk pada sumsum dalam terdalam yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

Tentang sebuah syarat yang masih terus terngiang dalam benak.Motivasi yang sejak kapan dan hingga kapan dapat kuhempaskan.Menikmati lumatan pada setiap ujung hingga pangkal dari ketergesahan yang menggiurkan.

Mungkin yang namanya tak mau ditampari kasar selain indah disalimi dengan rotasi tegangan yang mematikan.Bibir yang menari begitu sempurna hingga malam yang kupuja telah amnesia terekam.Dari jedah yang cukup panjang tanpa disandingi dan akhirnya terasa kembali dengan beribuh rasa syukur dibarengi penyesalan.

Tak wajar atau belum pantas kualami kisah ini.Hingga rotasi rembulan malam tak dapat memancari sinar indahnya.Kini sudah kumulai baru ceritaku tentang sepenggal hasrat yang masih tertundah.

Menemani malam di bawah pohon beringin depan sekolah.Malam yang mengajakku bertamasya bersama gombalan manis untuk membuka aibku.Aku tak ingin pergi untuk sejengkal karena kata belum bersua.

Jaket milikku disayembara bersama ajakan menakam malam dalam pagutan bibir dan tembakan peluru dor.Tentang mereka yang pergi untuk menimang subuh pada butiran embun yang bertengger.Ada pelukan hangat dan bualan manja sambil membujur guling.

Sesekali tangan meramas lekukan dan memijat batang dan lubang hasrat.Desahan dan rontahan manja yang memecah keheningan malam berdua.Lelehan embun baru yang perlahan diteteskan menemani benang sutra jaket milikku.

Aku tak kuasa menjajaki jaketku yang selama kupuja harum mempesona.Berubah drastis hingga muntahpun tak pernah kudiskusikan dengan naluri sahabatku.Haruskah aku marah dan meneriaki malam tidak kuturuti ajakannya atau membuang jaket mahalku pada comberan belakang rumahku ?