HKSA

Sebutan yang kutemukan di kala kedamaian dari sepih menyapaku,tentang sebuah rasa empati dan kasih pada Dunia.Hamba Kristus Semesta Alam,itulah namanya yang menjadikan pencipta sebagai tempat kasih dari perpanjangan tangan Kristus sendiri.Aku mencintai semuanya berawal dari penemuan akan kedalaman kasih yang hanya boleh dicicipi oleh orang-orang tertentu dengan mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal yaitu minimal SLTA.

Inilah sebuah hal yang sangat memprihainkan,bukannya kita semua sama di mata Tuhan ? Dan semuanya berhak merasakan panggilan khusus dari Tuhan dalam sebuah lembaga religius.Katakan itu pada dunia,bahwa mereka juga diberi kesempatan dan tempat.Dan untuk kaum muda yang tidak pernah mengenyam pendidikan SLTA,jangan takut dan mari kita bersama membangun HKSA,dalam karya pada kerasulan hidup doa mengikuti cara hidup pertapaan dan berkarya dalam berbagai segi kehidupan dan lebih terfokus pada cinta lingkungan sebagai Bruder.

Peganglah Tanganku

Kamu telah tahu tentang dusta yang telah kulakukan,genggam dan pegang erat tanganku,jika jalanku ada bersamamu.Aku sudah lama meyakini ini sebagai sebuah anugerah besar yang ada padaku.Semua itu darimu,tak ada hari dan menitpun aku lupa tentang bayangan bersama pemujamu yang lain itu.

Aku tahu,jika semua itu tidak semulus dan seindah yang kubayangi.Namun semua itu ada tanganmu yang selalu ada buatku.Dari tapak ini,ajari aku memijak yang benar dan melangkah dengan bijak.

Sejak lama aku menunggu semua ini dengan semua sikapku yang aneh.Aku sempat merasa ini adalah jalanku yang paling benar dan baik.Namun itu tidak aku temukan,selalu ada rasa yang lain selain menggelitik dari jendela kamar kala itu.

Jendela bertingkat tempat aku dan segerombol pria sejati mengarungi jalan panggilanmu.Aku lupa saat itu,tentang sebuah makna yang terdalam dari hanya sekadar berjubah,hidup bersama dan berbagi kasih.Aku terlalu gegabah memahami panggilanmu,hingga guntinglah aku gunakan untuk memutuskan tali kasihku denganmu dalam jalan panggilan itu.

Maafkan kasihku,yang saat ini masih memenuhi hati dan pikiranku yang tak semurni bayiku dulu.Aku selalu meyakini akan sebuah mujisat yang akan dan terus berkarya dalam hidupku.Genggamlah dan tuntunlah aku pada rencanamu.

Sendiri Itu Bahagia

Sebenarnya saya meresa dikekang oleh kebersamaan yang bertubi.Aku baru sadar tentang bahagianya ketika sendiri meratapi diri.Ditemani keempat sisi bangunan itu,aku merasa bahagia.Aku butuh kesendirian untuk melihat diriku.Ketika mereka ada,waktuku untuk diri terasa disita dan tergurus habis dalam candaan.

Untuk saat ini,kami adalah waktuku untuk berkata pada diri tentang arti dari diriku yang sesungguhnya.Masih berartikah hidupku saat ini.Aku mencari tahu tentang kedalaman hati yang tersembunyi oleh sekat pasi keteledoran.Aku mengerti tentang aku yang diluar,bertopengkah,belum utuhkah diriku ini saat ini,aku masih dalam pencarian.

Mereka yang diluar diri,melihat betapa letihnya aku menapaki dengan keluh.Ya,demikian rasa itu aku alami.Mereka yang dapat melihat,karena mereka adalah onggokan tanah yang bernyawa dengan hati yang masih peka.Aku masih dalam golongan itu,bukan ? Teruslah bertanya,karena ini adalah harimu yang penuh makna dan indah.

Kamu melewatinya dengan tidur,itu akan sia-sia.Bangunlah dari tidurmu kalah kamu bercengkerama dengan dunia riuhmu.Kamu masih ditanganku,makanya teguhlah kamu untuk berkelana dalam mimpi anehmu itu.Kamu masih aku butuhkan dalam duniaku.Dengatkan aku,aku ada dalam tapakmu.

Tanahku Mengenang Tetas

Lembata pulauku yang mungil dan indah penuh dengan beribuh seantero yang memanjakan mata.Akankah engkau terus bergelora di usia dewasa awalmu ini.Telah dilalui usia remaja nan menggebuh dengan bermaniskan madu,seyogyanya engkau terus memberikan aroma sedap di kalah itu.Engkau mengajakku untuk mengikuti perjamuan perdanamu,aku masih merah merona namun kamu menyapaku.Aku menginginkan kasih yang dulu terus aku rasakan.

Doa restumu terus aku imingi dalam sanubari gersangku.Aku menangis tertegun dengan rentetan suara senduh.Aku melihatmu telanjang dada.Elok rupamu telah musnah,engkau tidak lagi semulus dan seelok.Aku terus menyapamu dalam setiap kata dan bait doaku.Aku memohon kepekaanmu padaku,agar aku bisa memberikan warna senyummu kembali seperti saat itu.

Selamat menetas retas dalam setiap darah dan keringat.Dalam setiap kebisingan dan keharuan.Engkau tidak pernah murkah dengan sikapku,walau beribuh goresan nanar telah aku terohkan buatmu.Engkau bermunculan dengan kasih dan tentunya memberikan kenyamanan pada cecetmu dengan susu dan madu.Sekali lagi kuucapkan selamat buatmu tanahku yang indah.

Berkurangnya Orientasi

Perlahan rasa bersalah itu kian mencekam dan sedikit bergemetaran saat siang itu disapa lembut oleh dunia.Sebenarnya awal yang membuatku sadar akan sebuah perubahan dari perilaku aneh itu.Sikap yang sebelumnya membuatku begitu menyenangkan hingga penyesalanpun tidak pernah aku bayangi.Aku ingin mengatakan tentang rasa syukur dan terima kasih atas perubahan ini.Hal yang kebetulan dan akan menjadikanku begitu berbeda.

Wajahku saat itu merah merona,sedikit berkeringat dan agak gegabah.Namun dunia juga ikut memberiku ruang baru untuk menutupi hal demikian.Mungkin ini hanya untuk konsumsi sendiri tanpa harus dicumbu piluh dunia.Dunia saar ini masih berpihak padaku,memberiku ruang untuk menyadari sendiri tanpa harus dicemooh dunia.Maaf yang terdalam aku ungkapkan kepada dunia yang telah aku cemari.Memang tidak semua yang aku racuni,namun demikianlah sebagian dari itu telah aku racuni.Sebagian mendukungku dan membumbui resep.Agar resepsi malam kita semakin berwarna,dihiasi minuman yang memabukan.Demikianlah yang membuat kita terus memperbaharuinya agar terlihat sedap dicicip dan bohay dipagut mata.

Orientasi yang semakin berkurang dengan menghilangnya sikap tersembunyi yang dipelopori sendiri.Dunia maya yang memberi nuansa menggiurkan sehingga terlelap oleh godaan.Ekspresi dari sebagian dunia yang mendukungku selalu memberi warna agar aku enggan pergi.Terima kasih karena mayoritas dunia menyadariku,semoga lelaplah orientasi itu agar eleganlah aku melangkah.

Ulang Tahun

Itu sebuah kata yang dibingkai dengan harapan dan sikap berjaga-jaga

dari berangkatnya sebuah kepergian dari berbaring

Katanya seorang penyair rasa tentang waktu yang dahulu bercumbuh luguh berbarengan liar berjalan

Kita sempat berkata bahagia tentang moment ini

tentang resah juga yang kemudian diselipkan

Kita berlangkah karena kita tidak bisa bersanding dan berkompromi dengan waktu

Kita mengikutinya karena kita bahagia karena kelemahan berlobi

Malam Persiapan

Hai kalian saudaraku yang berbahagia,ketahuilah bahwa aku sangat bahagia dengan berita ini.Kata orang mati satu tumbuh seribuh,ada pergantian dari regenerasi hidup ini.Ada duka yang membawa berkat bagi kita.

Seorang yang telah bersama beraduh kisah dan nasib dari sebuah perjalanan telah pamit dahulu menyiap jalan.Kalian menjadi pengantin yang siap di dandan pada malam ini oleh alunan doa dan nyanyian yang memberikan rasa haru bahagia.Pagi menjemput dengan lontaran doa syahadat dari pengeras dekat itu.

Mereka juga bersama mengejutkan bahwa bangunlah dan bersiaplah karena kalian memenuhi janji suci dengan Dia.Kalian dipilihnya untuk bersatu dalam buku panduan hidup membiara.Pena bergerak mengayun sesuai irama dari kata itu.Resmilah menjadi penyembah dua hati,rawatilah janji itu dengan semangat juang dan cinta tulus dari tindakan nyata.

Bukalah mata dan telinga pada hujan yang deras dan gerimis yang meninahbobokan.Dengarlah rintihan harapan dari domba yang berkeliaran pada hamparan padang hidup ini.Janganlah terlena dan lupa bahwa aku sedang ditugaskan menjaga kawanan domba itu,lalu mengapa ada yang menepih dan terdiam sendiri ujung sana dan disitu.Katakan itu pada semua cipataan bahwa kamu mengasihi dan siap merawati itu semua.

Minggu

Pada akhir hari itu dimana telah aku temukan bahwa ada Dia

saat itu aku bertumbuh dalam satu gubuk yang telah bercakap dan berkenal dengan Dia

Ada bahagia dan gejolak yang tumbuh pada saat itu saat lugu bocah masih aku lewati

ada canda dimana awal aku mulai bercumbu dengan suara itu

ada yang menyapa aku lewat untaian kata bahwa kamu menjadi dihormati saat kamu kembali

aku masih bergumam dengan bunyi desahan pada ujung suara itu

aku harus kemana

berangsurnya waktu aku berangjak pergi jauh meninggi pada porsi itu

aku mengenal

aku mulai mengikuti

aku tertati dalam kebisingan keluarga dimana ada yang menjadi aku pikirkan

ada putus asa yang berkecamuk bahwa yang aku cintai itu belum sepenuhnya menerima

ada kecurigaan

ada kehampaan

ada dorongan

ada paksaan

begitu banyak yang hadir mengantri masuk pada bait kecil dada

aku bersukacita di hari terakhir pada pekan itu

namun mengapa aku tidak lagi mendengar nyanyian pujian itu

aku menyangkal

aku ingkar janji

bukannya aku harus datang di saat ini

lalu mengapa aku harus menghilang

Pergi untuk Kembali

Jejeran kata dan kalimat terlintas mengalir kencang berangsur

membuat tekad bahwa harus memulai hidup baru dengan pergi jauh

Menapaki pendakian yang banyak berkerikil

aku harus pergi walau berat untuk melangkah

namun harus berbesar hati menjalani

ketahuilah bahwa saya akan kembali di saat semuanya telah berkahir

nantikan kedatanganku