Sebotol Air

Gambar:Potret sendiri

Wajah kusam yang bingung membawaku pada sebuah nuansa dan polemik kata yang membosankan.Aku ingin mengulang setiap kisah manisku yang telah hanyut ditelan waktu.Niatku hanya ingin menetralkan setiap kisah yang amblas ditelaah oleh sang waktu.

Aku terlihat bodoh dan asing dengan bumi pijakan sendiri.Ini yang dinamakan mainmu kurang jauh dan pulangmu kurang larut.Telah terbukti jelas pada tapak kisah yang mungkin akan menjadi kenangan seabad kemudian.

Aku seolah diterlantarkan dan nyaris dibohongi oleh orang yang bernasib malang dan berjiwa penipu.Mereka ingin menerjunkanku pada kekelaman panasnya ampera yang saat ini aku duduki.Dua kali aku terombang-ambing pada arus globalisasi masa yang belum pernah aku telaah.

Sangat jauh pikirku dari nyatanya cerita yang belum aku larutkan.Aku ingin kembali pada sejuknya kota kecilku yang asri dan ramah.Di sana tak ada yang ingin disakiti dan tersakiti,aku merindukan lantai bertirai yang masih kuletakan botol air kesukaanku.

Aku masih di sini,di telan sang detik dan menit yang merajut jam dinding berdering tanda akan segera datang perindu yang dirindukan.Dalam posisi yang tak semestinya aku umbarkan dalam kalimat yang berbau rasis,aku tak ingin mengata bahwa mereka dicetak menjadi pemulung kesialan.Namun semestinya aku katakan kita tak boleh lupa bahwa kita di tanah lasim,ketahuilah kita akan berada di tanah asing.

Gadis SMP

brilio.net

Perkenalan pertama yang tak pernah kubayangkan.Awal mengenal lebih dekat dengan jarak tanpa spasi.Jauh kulihat seperti gadis yang pernah kucintai,namun tentu hanya mirip.

Semua terasa cepat rotasi waktunya,malam menjadi milik berdua.Di bawah rimbunan pisang belakang rumah mesin kita berbisa memeluk membantu memanggangi tubuh yang beku.Aku mencoba mengawali dengan mengenali namamu dengan tanya yang terasa wibawa dan romantis.

Perlahan ada desahan yang mengatakan kamu tak sedang baik-baik saja.Rupanya kamu telah terasuk untuk masuk dalam sangkar milikku yang lama kupelihara.Tanganku sengaja kulancangkan mengairi setiap lekukan yang membuat debaran semakin menggebuh.

Aku memegang dengan keras tetekmu yang lembut,terasa seperti sedang berhembus dengan leluasa di puncak Bromo.Aku mengikuti setiap gerakan tangan dan mulut yang bergerak tanpa komando otak yang segar.Dengan sigap letusan berisik menambah napsu malamku,aku mengotori tubuhmu dengan lelehan liur.

Tak terasa malam begitu memihak pada kita,hingga detak jantung kepunyaanmu tak pernah kugubrisi.Aku hanya fokus pada tarian lidah yang memacuh gunung indah dan jemari mengelusi lubang kenikmatan.Memang aku sedang ereksi dan menimang setiap jeritan yang mengajakku untuk terus bercumbuh.

Dan aku katakan terima kasih untuk jejak waktu yang berambisi memungut berkas cerita.Aku rindu pada kisah itu,nostalgia akan terus menjadi yang berkesan.Namun aku ingin kita reunian soal pagutan rasa ini,mungkin akan punya cerita tersendiri yang diniatkan untuk membuku.

Kantor Pos Cinta

facebook.com

Senja yang membias melewati celah-celah jendela kaca yang tersusun.Untuk saat yang sama senyumku baru saja kuketahui bahwa benar-benar ada dan terlihat jelas tanpa samaran.Aku ingin melompat girang dalam diamku,bahwa sekarang aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Permulaan dimana diriku memberikan kata tanya tentang keberadaannya yang tak lazim diriku pahami.Begitu indah hingga malam tak pernah ingin mematikan senja awal pertemuan itu.Tentang namanya yang begitu indah seindah setiap yang ditampakannya saat itu,dilengkapi senyuman yang paling indah tak seindah taman bunga raya Indonesia.

Kisah pertama dimana hari sejarah dari orang yang diidolakan olehnya hingga bernaung di lembah sejuk.Bungkusan perlahan kubuka dengan santun dan hati yang berdebar ego.Aku mulai ingin tertawa sekeras mungkin bahwa aku berhasil menaruh hatinya yang awal kuketahui cukup dingin.

Kata orang jika kita tak sepaham maka tak akan dipertautkan dalam setiap sajian kisah.Berhamburlah setiap carikan kertas yang kuramas berkerut kusam.Mungkin aku sedang mencari yang paling sempurna baik kata dan tampilan letak kugaungkan ukiran hati,agar terlihat lebih dari lukisan hati yang melekat pada kado pertamanya.

Benarkah kata setiap cerita yang sempat terbaca dan terdengar,cowok tak ingin rendah dari lawan gendernya.Dia akan berusaha tampil seindah mungkin agar mata tak ingin meredup melotot.Dan liur yang miskin masih sempat dipamerkan pada ujung yang sengaja diperlembut.

Mulailah pena kutorehkan pada barisan kolong yang akan kudesain sendiri.Terlihat pembangkang dari yang ada,sebenarnya hanya terlihat indah dan boros kertas.Ketergesahan lembar demi lembar dan minimnya mutiara kata cinta yang ingin dituangkan menjadikan semuanya akan bergulir dengan kepingan kata cerita refleksi dan kertas notes mini berlabelkan gambar hati dan kupu-kupu.

Inilah sebabnya aku memulai aktivitas pikirku untuk membongkar setiap tumpukan kata yang pernah disusun.Dari kata jenaka hingga kata contekan dari sinetron dilan hingga roman picisan,aku mengenali mereka yang membawa kisah dan waktuku kubawa ke tetangga sebagai bekal tuk membangun cinta.Disinilah kami saling mengenal dan mendukung dalam setiap tapak,aku berkaca pada kata yang akan mengahantarkanku pada pergolakan hati yang membahana.

Tawa Yang Berbisa

http://www.grid.id

Aku terlampau lugu untuk berontak tentang jalan yang terlampau panjang dan waktu yang terlampau singkat.Hingga menaiki lereng bebatuan yang pernah kudaki dengan anggun sekarang kudaki dengan perasaan berat hati..Mereka terlalu kasar dan beringas untuk memaksaku pergi jauh atau aku yang tak konsisten merenggut setiap jejak tapak dan memagut waktu yang berdesakan.

Entahlah,aku yang terlalu ego untuk menyaingi setiap kelopak mata yang ingin berkedip atau tentang mereka yang ingin merangkak.Setiap lika-liku yang kadang membuat amarah memuncrat dalam dahaga yang sesak tak beruang tawa.Katanya,aku tak pandai merangkai kata untuk memuja cakrawala dan menarik perhatian jam dinding.

Sempat aku teriris dalam lidah yang bersilat hingga tak menyaring setiap huruf dan kata yang disusun maenjadi kalimat pemantik.Dengan leluasa menjadikan kata sebagai lampiasan kemarahan dari sikap kekanakan.Kita mesti marah namun bukan menyepelehkan etika yang mencerminkan aku dari saya dan kamu dari dia.

Aku pernah dahulu menaiki bukit di dekat daerah yang indah,merajut kisah cerita bersama teman sejawat.Aku mengatakan bahwa mereka tak lengkap ketika awal tercatat lengkap.Namun bukan aku mengatakan mereka tak bisa membangunkan semangat langkah,tetapi sebenarnya dari merekalah aku belajar tentang setiap jejak yang perluh disyukuri dan dapat mengetahui dan kemudian memahami apa yang tak terungkap dan terlihat.

Terlalu Singkat Untuk Ditangisi

Gambar:foto sendiri

Kaki ini merangkak menjauh dari setiap peraduan tawa dan senggang.Di sana tak pernah ditemukan secarik kertas bertinta bahwa kita mesta berpindah dan harus diam.Namun yang hanya adalah perkataan yang menanding dan menyangkal bahwa kita berbeda dan aku bukan kita melainkan saya dan kamu.

Mungkin saat ini aku ingin mengajakmu menengok tentang tak ada rotan akar pun jadi.Bahwa kita mesti paham tentang polemik yang real tanpa harus berambisi mengata tentang asumsi dan narasi kata cerita yang sama membuat bingung.Ada sepenggal kisah yang mestinya kita sampaikan pada tunas muda yang ada di taman Eden,bahwa bukan ular dan buah kuldi yang menjadi penyebap dosa melainkan pergolakan molekul gagasan pada tubuh yang ego.

Haruskah aku dan kamu sepakat meretakkan kata kita,agar jumpa tak pernah digaungkan ? Dan oleh serupa malam suntuk ini,tak kita subuhkan dengan hanya berbicara analogi yang tak putus.Karena sejatinya aku ingin memaksa waktu tuk bergulir kembali dan mengubah alurnya,bahwasannya aku benci kebersamaan.

Kata yang hampir sepadan dengan alur ketakutan akan kebisingan setiap insan penyusun tubuh.Ada celotehan yang sesekali membuyarkan imajinasiku bahwa kamu baik-baik saja.Ataukah aku harus mengulangi rentetan nostalgiaku bahwa aku hanyalah seorang dan pencarian kesibukan diri ? Semua itu menjadi sebuah dinamika yang beruntun dan terpolakan bahwa semestinya langit tak selalu biru.

Kisah Malam Jumat

Gambar:foto sendiri

Kembali lagi dia menelanjangi paha putih miliknya,dan itu sudah keseringan hingga tak dapat kujarikan.Mungkin yang namanya dunia sedang bebas dan tubuh bugil juga ikut diberi ruang,sekedar ingin menghirup lebih leluasa udara segar.Malam itu,lampu depan teras rumahku sengaja dimatikan agar terlihat romantis saat memenorkan diri di muka pintu.

Mataku sempat berbianar,dan nalarku pernah mengata dalam perkiraan bahwa itu hanyalah kesengajaan.Mungkin dia mengumpaniku,atau itu bagian dari budaya kesendiriannya di malam yang suntuk.Mungkin juga tentang rembulan purnama yang lama tak membuka hingga ketidaksabarannya digombali berontak.

Ahhhh,aku masih sadar bukan ? Kesadaran yang mendominasi agar tak menepih dari pola yang terpolakan.Namun bukannya aku harus merayu pada setiap ekspresi dan gerakan yang sedikit merespon ?

Pernah kuberpikir tuk mencoba memahami.Namun ketakutan yang pernah terpikir akan merampas kondisi bebasku.Semuanya terlihat serba salah dan rasionalisasi,hingga amarah itu hanya tinggal meraung,dan kemudian sekedar menyiksa diri dengan setiap terapi jemari yang pegal.

Bening Yang Masih Setia

Gambar:foto pribadi

Semenjak kaki mulai digeserkan sedikit menjauh dari zona nyaman.Aku menimang setiap sisi yang melingkupi,sedikit melotot agar lebih betah meneliti setiap asa yang membatasi.Sedikit jenuh dan gerah akan ketergesahan yang membuat khawatir.

Awal aku mulai menginjak pada rentetan tapak yang pernah diarungi,terlihat ada jejak lain yang beragam.Tentang semangat dan lunglai yang akan menjadi biang tuk berlajuh pergi.Sempat ada kegiuran untuk berpaling dari muka yang meneropong,antara kita yang ingin maju tuk merubah.

Saat itu aku masih saja mengintai setiap pergerakan dari lingkaran karet pelumat besi putih yang membawa jauh ke tempat ini.Tempat yang hanya tiga dekade waktu kita berkicau kisah.Melukis beribuh kenangan yang mungkin akan diceritakan kembali oleh dia dan mereka.

Butiran bening terus mengalir membasah tanpa adanya sebab dan musebab yang cukup relevan tuk didefinisikan.Ada ketakutan dan keseganan yang ikut membanjiri ubun hingga pori tubuh lain.Mereka yang lama kulihat namun baru kedekati untuk bisa bercengkerama bersama di bawah payung pergerakan.

Manatap Dari Tepi

Gambar: foto sendiri

Sempat ada hasrat malu yang kian menggerogoti hati yang basah kuyup oleh gengsi yang menimbun.Tak sempat kupayungi dengan beribuh juta kisah yang menggigil.Ada setiap timbunan yang mengembun pada bejana tanah yang lama digenangi.

Kisah itu demikian rumit tuk dijalani bahkan diceritakan sekalipun.Namun tak pernah kupungkiri sebab dan akibatnya yang hanya dapat diaminkan dalam sekejap mata.Kita tak luput dari dusta yang kemudian kita telanjangi dan mengajak orang lain tuk ikut menertawakan.

Inilah kita yang mengukir kisah bodoh dan kemudian aneh tuk digeluti.Aku sengaja berkicau tentang kebimbangan yang demikian rumit.Kita demikian terus berkaca pada keretakan yang membingkai pada dataran jiwa dan raga yang hampa.

Kepada Malam

Kompasiana.com

Aku ingin bernasar pada setiap keluh seorang penikmat senja yang murung oleh malam merenggut senja.Ada suara-suara yang pernah meneriaki hati tuk bisa tersinggung.Itu semua telah kuanggap mimpi yang belum sempat terekam hingga aliran darah ikut mengumbar keraguan.

Kembali kukatakan tentang ketelanjangan yang membuat mata tak ingin menepih.Tangan ingin meraut serpihan kain yang menempel pada depan pinggul.Ingin kugenggam dengan erat dan akan kurasakan debaran hasrat oleh kuping yang labil.

Aku ingin memagut malam itu seperti naluri yang liar memagut bayang dan hayal.Seperti penikmat kopi yang lihai menyentuh bibir cangkir hingga tak pernah lepas pada ganggang cangkir.Aku tak ingin kita hanya bersua pada saat ini saja namun tetap untuk esok.

Naluri Berkata

Pixnio.com

Garah yang terus menggerogoti kemudian memaksaku untuk pergi dan melupa.Memanggil bening langit untuk bersama menyapuh tapak yang membekas.Kita tak seharusnya menyata tentang tawa yang berkepanjangan namun juga tentang jenuh yang menciut.

Pergilah sejauh kaki kuat mengayuh sepeda ontel milik tuanmu.Carilah tempat yang paling sepi,hanya kamu sendiri yang menatap bugil dan indahnya seluruh pernak-pernik tubuhmu.Ada handphone yang selalu menjadi sahabat sohibmu,menonton video porno yang menggairahkan hati.

Bersandar di pangkuan yang setidaknya menyamankan jiwa di terik penakluk salju.Telanjang dada dan menatap dengan kosong pada kejauhan mata yang meneropong penat.Sesekali tangan diayunkan pada posisi strategis dan membuat ketagihan.

Semua menjadi milikku saat itu,melukai diri dengan suasana damai hati yang tak seharusnya di ajak minum jus mangga.Setidaknya menambah napsu lidah yang ingim memagut setiap insan yang mengganggu saat itu.Namun itu hanya ilusi yang berkepanjangan dan aku masih sendiri menatap tubuh bugil yang sedari tadi tak ingin aku kotori pada lumpur musim hujan.

Aku tak ingin terlihat dekil hanya karena napsu yang membanjir.Ingin kugoreskan tulisan pada kertas kusam bahwa aku pernah ke tempat ini.Dan pernah menanam benih yang sudah lama kumimpikan tuk kubenamkan pada dasar tanah yang menggundul.