Madu Malam

Maduasli.co.id

Telah lama kuingin dibelai saat melihatmu pergi entah kemana.Melototi setiap pergerakan yang membuat libidoku naik seketika.Semuanya terasa nikmat jika waktu mengizinkan dirimu bersamaku untuk sekian menit.

Aku juga melihat perlakuan anehmu yang selalu ditunjukan melalui ekspresi dan pakaian yang dikenakan.Selalu ada lekukan dan bolongan yang tak pernah mengingkari hati ingin melunasi dahaga kehausan.Namun semua itu telah berkahir dengan nyalihku yang tak sebesar orang lain.

Tentu mereka yang sepaham dan dapat memahami pola pikir dan tingkah dapat menerobosi dengan mudah.Tidak denganku yang selalu takut pada dunia dan cemoohan yang akan membuat muka tak dapat diselipkan pada secarik notes.Mungkin belum saatnya kita akan berucap jujur pada setiap hasrat yang lama kita pendam bersama.

Tentu sangat menawan dan indah jika kelak semua tubuh ingin dilumat bersih.Celah yang tersembunyipun dapat dirayapi dengan segelintir kepandaian dari liur yang membasahi dan bibir yang menyapuh hirup.Nikmat tentunya dan kita akan meniduri detik dengan segelintir lumatan dan tikaman yang sedangkal mungkin hingga desahan menjadi penyempurna setiap polesannya.

Cinta Tersurat

Jujur aku katakan pada dirimu yang mungkin tak perna kuajak berunding tentang isi hati.Tanganku telah lentur dengan pena kusam yang lama tak kugunakan.Tentang memori tak bertanggal yang masih segar di benak.

Tentang kata vs yang kudengar sejak kaki belum beranjak puber.Namun duniaku mengenalku hingga aku bingung bagaimana caranya berucap lisan pada mata yang beradu.Aku masih di posisi kebingungan tuk berujar pada rentetan kata yang tersirat dari sekadar tertulis rapih.

Mungkin mata lain tertawa gelih ketika memagut kataku dan telinga akan ditulikan agar teriakan berdarah pada bising.Inilah aku yang lama tak tahu menahu denganmu karena terlalu gengsi berpikir sepele.Aku hanya ingin yang luar biasa dari hanya sekadar gombal dan kemudian baperan,karena sesugguhnya itu bukan aku dan kamu harus tahu dan memahaminya.

Malam Terakhir

Yang berambut panjang dan pendek berjejeran memenuhi bangku taman.Bercanda dan bergumam pada kesibukan mereka sekali memberi senyum ketus berasas beribuh makna yang terselip bujur.Aku menguap dan menyakiti mata dengan menggosoki dengan keras kiri dan kanan secara berirama.

Kata teman tetangga rumahku yang berteriak kencang sambil tergesa-gesa mengibasi wajah dengan dandanan paling indah.Memasang wajah berjuta ekspresi pada muka cermin yang menempel.Keraguan dan candaan gila yang selalu mematungi malam kesendirian di kamar.

Telingaku masih saja kulekatkan pada dinding kamar.Aku ingin mendengar bisikan dari rumah tetanggaku.Begitu antusias meniduri malam ini,kata temannya ini malam terakhir untuk bermingguan.

Aku tak habis pikir tentang jiwa yang merontah jika tak memaguti malam ini.Mungkin hidup akan terasa hampa dan singkat untuk tertawa dan tersenyum bungkus.Sesekali aku ikut bergumam akan malam yang akan aku pantulkan dari arah jendela kamarku.

Aku tidak lagi menjadi penonton story untuk malam ini.Aku ingin melototi mataku dari beningnya kaca jendela di lengkapi gorden putih kelabu.Mungkin hatiku seperti warna gorden dan bagaimana dengan hati beribuh pasang mata yang melototi malam dari peraduan remang-remang lampu.

Aku ingin berbicara lewat angin malam kepada beribuh mata.Mungkin mereka bisa menanggapinya lewat angin malam yang mengibasi rambut dan tersedot rongga hidung.Rasakan hatimu dan berbenahlah agar tak hanya raga rindu yang diobati melainkan jiwa setiap tapak kaki menuju bumi cerahmu.

Malam Kelam

Jika malam ingin berpamitan dengan redupnya rembulan malam.Aku masih ingin meneropong piluh pada bangku tua taman remang.Lampu taman saat itu menjadi hiasan hati yang gempita.

Malam itu semakin ego membaca seisi dunia malam sunyi.Hanya aku yang ingin bersahabat dengan remang-remang jalanan kota yang semakin melarut pekat.Ada jejeran para pemadu malam yang bercocok hidung pada porosnya.

Mereka menambah malamku semakin larut pekat yang tak mampu kubiaskan dengan bersitan sinar.Aku hanya ingin menggoda malam itu agar noda dari bintik pekat malam dapat kecumbuhi.Mereka tak sedikitpun perna merasa ada diriku yang birahi memagut.

Akankah semua ini akan berakhir dengan tanya yang berkepanjangan ? Malam yang tak perna berbisik tentang lantunam sajak puisi malam dalam dahaga yang kehausan.Dan akhirnya aku menyerah dengan guyuran bisingnya dedaunan yang berisik disapuh angin.

Rekayasa Malam

Untukmu yang masih selalu kurahasiakan pada mata dunia.Namun tidak denganmu yang perna kukabari dalam seruas kata.Aku tak perna mempedulikan kata hatimu yang akan mengata tidak,namun sesungguhnya aku harus katakan itu.

Bukannya kita perlu jujur dengan kata hati yang selalu menggebuh seperti mata hati pencinta senja.Tak kalah eloknya dengan hati yang dingin sehabis diguyuri hujan setelah sekian lama meranggas kemarau.Semua itu tak selalu sehati pada rindu yang sulit tuk dibumbui racikan penenang.

Rindu hanya ingin dimadui kata setia dan ungkapan jumpah saat malam merenggut senja.Di sana ada rembulan sabit pemanah hati yang sedang ambigu.Hati yang ingin mengajakmu pergi ke tempat nan indah yaitu hamparan remang-remang malam minggu.

Akan kuceritakan tentang semua rasa yang perna kubuang namun kupungut kembali.Tentang rindu yang selalu tutupi dengan kata penenang yang tak manjur.Tentang persahabat cinta yang tak akan kutepati karena aku mencintaimu lebih dari sekedar bercerita pada kata satu gubuk.

Inginku Menikam Senja

Aku ingin menanyakan tentang beribuh skenario yang perna dipajangkan.Tentang rasa yang selalu bervariasi yang diteguk.Aku benci dengan semuanya yang tak perna mengkhiantai setiap mata.

Kamu telah berhasil membuat gadis pejuaanku berpaling dariku.Katanya dia ingin menghabiskan waktunya berdua denganmu,bertatapan dengan singkat namun memuaskan.Apa yang membuatmu pandai mendesainkan rasa pada kehampaan.

Dia pergi hanya untukmu,walau dirimu tak perna ada dalam malamnya.Aku ingin memalingkan rasamu padaku agar dia tak memanasiku dalam dekapan senjamu.Ajari aku agar bisa sepertimu dengan ketulusanmu yang tak perna berkhianat.

Singkatmu membuat aku meradang dalam kedengkian hingga sabitpun telah kusiapkan untuk menikammu.Namun semua itu gila merangsang yang tak kesampaian pada nalar.Katakan sejujurnya padaku tentang resep sajianmu yang tak perna membuat dahaga menjadi gersang.

Aku tahu bahwa hal gila yang perna merasuki batinku.Dulu aku perna berkisah tentang manisnya hubunganku dengan dirinya.Tentang kekuatan cintaku yang tak satupun menenangkan naluri rasanya.Hanya dirikulah yang mengetahui rahasia itu,namun semua itu tak demikian bagimu.

Aku tak akan enggan untuk membunuhmu agar malamlah penggantinya.Malam telah bersahabat denganku,tentang gemerlapnya bintang dan murninya rembulan memamerkan senyumnya.Namun tak berhasil dan dirimu yang memenangkan semua mimpiku.

Mata Jemari

Jijitan kaki merekap jejak tentang kesetiaan yang tak direkayasa.Mengatup mata dengan jemari menganga mengulas senyum manismu.Menambah kegelisahan hati saat itu,namun diriku menatap lekat pasif.

Aku bukan raga yang menganggap hal demikian konyol namun kemustahilan yang dapat kukagumi dalam naluri jiwa terdalam.Aku tak pernah mengumbar kenangan tentangmu dengan waktu yang belum padat isi.Inginku mengulang itu saat kita tak lagi menahan spasi dan mata tak lagi enggan menyentuh.

Akanku rasakan mata hati yang lama kupendam.Kubelai dengan ragaku yang tak semua miliki.Caraku sederhana namun cintaku padamu luarbiasa.

Semua itu tak dapat disamakan dengan madu pohon dan gua yang semua dapat cicipi.Tak ada pemilik yang menjadi tuan rumah dalam nutrisi kental itu.Malahan semutpun dengan leluasa mencurinya dan kembali menceritakan itu pada sejawatnya.

Tidak demikian denganku,kudebarkan itu sendiri dalam hati dan kukalungkan pada diksi yang tak sepuitis cinta kita dalam diam.Namun tidaklah salahnya jika kurangkaikan agar kisah kita terekam oleh kata dan jejak waktu.Dan tentunya kita akan mengukirnya kembali saat cincin kubalutkan pada dinding hatimu agar tak mudah dileceti.

Tak Ada Kata

Sejujurnya aku ingin katakan tentang rasa awalku padamu,pada senyum yang tersimpul dari tulusnya hatimu.Sapaan saat itu yang membuat diriku tak perna melupakannya,sungguh membuat debaran pada hatiku.No Ganteng,yang keluar dari alunan melodi kata yang terucap oleh bibir merah muda milikmu.

Tak kusangka semua terus kita rajuti tanpa disadari.Pergulatan dari hati yang berdebar,tentang polemik rasa padamu.Aku mencintaimu dengan caraku,namun mengapa doktrin memaksaku untuk menguburi cintaku.

Namun janganlah kamu menilaiku pengecut dalam cinta dan rasa,sesungguhnya ada kata yang dapat mewakili.Kembali lagi rasa ini,terngiang kembali dari sudut hati kecil,kamu titipan buatku yang harus kumiliki dan kujaga.Tak ada hari yang terlewati untuk memujamu dalam setiap bayangku.

Ini bukan gombalan namun tentang keterbukaan rasa.Ingin ku bersamamu dalam tawaku dan tangisku,hingga kita lupa bahwa tetesan itu menodai putihnya cinta.Membelai rambutmu,dan mengecup keningmu saat mimpi indah memculikmu dalam guanya.

Bukannya kita telah mendahului subuh dan senja untuk memahat pagi dan malam ? Bukannya kita merasa memiliki namun tanpa status adalah hal yang telah kita rundingkan dalam nadi diam ? Dan itu yang terbaik, sekarang waktunya kita hanya bisa mengerti tentang waktu yang tak perna mengkhianati amarah yang kita tapaki.

Hari Kemarin

Aku kembali bernostalgia,tentang bibirmu yang buas,membasahi bibir pecahmu dan kemudian menggigitnya dengan manja.Aku membayangkan tentang pijatan yang pernah dipolesi pada tubuh telanjangku,hingga aku pulas dalam dekapanmu.Aku membayangkan tentang tatapan melototmu yang memuncak pada lumatan bibir yang sedikit memberi luka pada tipisnya kulit lentik bibir dan lidah yang buas.

Aku membayangkan tentang perihnya bokongku yang ditampari oleh tanganmu,membuatku terangsang.Aku membayangkan tentang kekenyalan yang dibuat olehmu dari tusukanmu pada memekku.Aku puas dengan semuanya itu,namun inginku mengulangnya kembali bersamamu.

Aku berpikir untuk menyeberangi lautan dan menepih di pulau keramat dan sepih itu.Dengan begitu kita akan lebih leluasa mengarungi lekukan dari tubuh bugil,dan pastinya menyisahkan lendir-lendir asmara.Kita akan mengukir kenangan pada pasir dan batu serta pepohonan dengan nama kita,agar menjadi sejarah bahwasannya kita pernah memagut serpihan kisah kita.

Hujan Berkisah

Aku masih di sini menunggu usainya rintik dari langit,namu aku tak ingin pula hati membara dalam kenangan.Aku ingin berakhir dengan gundah yang berlabuh pada pelabuhan cinta.Pernah aku mendengar cerita dari kakak sulungku,tentang cinta perahu kertas.

Ada sepasang kekasih bayangan yang bertamu pada semilir angin dan muaranya sungai putih.Mereka tak saling mengenal,bahkan mimpipu tak pernah hadirkan makhluk aneh itu.Tak ada hari tanpa bersereruh pada tepian sungai,tepian yang berkicau tentang bangau yang bercerita dan bermadu cinta pada rerumputan hijau.

Namun aku tak ingin semua itu terjadi padaku.Aku benci dengan cinta yang secara tiba-tiba,bahkan membuat amarah memuncak dengan perebutan perahu kertas tersebut.Aku ingin bernalar tentang cinta yang tulus,bertemu saat usia dini dan akhirnya lama merasuki hati muda merona.Mungkin semuanya akan menjadi kenyataan,tetapi kapan waktunya tiba.

Hariku telah dilalui dengan tawa dan hiruk pikuk desa yang asri.Aku mempunyai sahabat kecil yang kocak dan menjengkelkan,dia selalu membuatku mendidih amarah hingga tawapun tak pernah hinggap kala bersamanya.Aku pernah meminta orangtuaku untuk pindah dari desa ini,inginku pergi jauh dari dunianya yang jahil.

Orangtuaku kemudian,dengan berat hati mengiahkan untuk pindah dari desa itu.Hidupku menjadi begitu leluasa dan bahagia,dan aku mempunyai banyak teman yang baik dan perhatian.Waktu terus bergulir hingga lupaku tentang masa lalu kian menggebuh.

Tak terbayangkan tentang ketergesahan hatiku yang tak bosannya merindu tentang senja.Aku menari pada hamparan padang di bukit penantian itu,di atas batu galian entah sejak berapa lama.Aku betah dengan suasana yang memanjakan mataku.Ada seorang pria yang bersyair tentang cinta yang tak kunjung tiba.

Pria itu,tak pernah lupa dengan janjinya pada subuh dan senja.Dia dengan leluasa bercumbuh pada cakrawala,dan sesekali berkelana dengan keasyikan sendiri.Aku memperhatikannya dari jauh dengan kekaguman dan kebingungan.

Entah apa yang membuat dia begitu menjadi kelihatan aneh dan gila ? Aku terus menggelitikinya dengan saksama,hingga aku terjebak oleh mata yang tajam melotot darinya.Kami akhirnya menjadi tercengang dengan perpaduan dari sorotan mata,ada juga sulaman senyum yang ikut tersimpul dalam panorama itu.

Aku dan dia menjadi begitu dekat saat itu,ketika nalar penasaran mengaitkan kami untuk mendekat dan mengayunkan tangan kekar tuk menyapaku dalam dekap.Aku tersipuh malu dengan semua kekaguman yang tergambar,hingga gegabahlah kuperlihatkan.Alur waktu sepakat kami santapi bersama dengan kebersamaan mesra.

Pagi itu aku sempat berpikir untuk tak ingin bangun dari mimpi malam yang indah.Mimpi malam tentang lumatan dari bibir cueknya,yang tak ingin aku palingkan.Aku ingin mencintai dia dalam nyataku,bukan dalam bayang dan mimpi.Namun tidak apalah,mungkin karena ingatku melampaui egoku hingga mimpi demikianlah yang bertamu di lelap malamku.

Malam selepas senja,mendidihkan tubuh pada kesejukan yang mencekam.Aku dibelai oleh tangan yang lama kulepaskan,ketika egoku memaksa untuk pergi dari desa.Kini dia kembali menyegarkan rasaku,hingga malamku dipenuhi remang-remang benderang seumpama lampu pohon natal.Lumatan dari bibirnya menari liar pada leher dan payudaraku,aku menikmatinya dengan haru.

Rangsangan yang menambah semua gairah malam itu,saat buluh-buluh halusnya memanasi tubuhku.Kekenyalan yang kurasa saat sentakan bokongnya menikam dalam daging selangkanganku,desahan berseteruh dengan suara isakan dari film porno di dinding kamar.Lidahnya yang liar menari lahap pada lendir daging selangkangan,kami saling menukar membentuk poros 69.Aku lemas,dan kami saling meneguk laharan kenyal itu,puas dan legahlah kehausan rasa kami.