Sebotol Air

Gambar:Potret sendiri

Wajah kusam yang bingung membawaku pada sebuah nuansa dan polemik kata yang membosankan.Aku ingin mengulang setiap kisah manisku yang telah hanyut ditelan waktu.Niatku hanya ingin menetralkan setiap kisah yang amblas ditelaah oleh sang waktu.

Aku terlihat bodoh dan asing dengan bumi pijakan sendiri.Ini yang dinamakan mainmu kurang jauh dan pulangmu kurang larut.Telah terbukti jelas pada tapak kisah yang mungkin akan menjadi kenangan seabad kemudian.

Aku seolah diterlantarkan dan nyaris dibohongi oleh orang yang bernasib malang dan berjiwa penipu.Mereka ingin menerjunkanku pada kekelaman panasnya ampera yang saat ini aku duduki.Dua kali aku terombang-ambing pada arus globalisasi masa yang belum pernah aku telaah.

Sangat jauh pikirku dari nyatanya cerita yang belum aku larutkan.Aku ingin kembali pada sejuknya kota kecilku yang asri dan ramah.Di sana tak ada yang ingin disakiti dan tersakiti,aku merindukan lantai bertirai yang masih kuletakan botol air kesukaanku.

Aku masih di sini,di telan sang detik dan menit yang merajut jam dinding berdering tanda akan segera datang perindu yang dirindukan.Dalam posisi yang tak semestinya aku umbarkan dalam kalimat yang berbau rasis,aku tak ingin mengata bahwa mereka dicetak menjadi pemulung kesialan.Namun semestinya aku katakan kita tak boleh lupa bahwa kita di tanah lasim,ketahuilah kita akan berada di tanah asing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s