Tawa Yang Berbisa

http://www.grid.id

Aku terlampau lugu untuk berontak tentang jalan yang terlampau panjang dan waktu yang terlampau singkat.Hingga menaiki lereng bebatuan yang pernah kudaki dengan anggun sekarang kudaki dengan perasaan berat hati..Mereka terlalu kasar dan beringas untuk memaksaku pergi jauh atau aku yang tak konsisten merenggut setiap jejak tapak dan memagut waktu yang berdesakan.

Entahlah,aku yang terlalu ego untuk menyaingi setiap kelopak mata yang ingin berkedip atau tentang mereka yang ingin merangkak.Setiap lika-liku yang kadang membuat amarah memuncrat dalam dahaga yang sesak tak beruang tawa.Katanya,aku tak pandai merangkai kata untuk memuja cakrawala dan menarik perhatian jam dinding.

Sempat aku teriris dalam lidah yang bersilat hingga tak menyaring setiap huruf dan kata yang disusun maenjadi kalimat pemantik.Dengan leluasa menjadikan kata sebagai lampiasan kemarahan dari sikap kekanakan.Kita mesti marah namun bukan menyepelehkan etika yang mencerminkan aku dari saya dan kamu dari dia.

Aku pernah dahulu menaiki bukit di dekat daerah yang indah,merajut kisah cerita bersama teman sejawat.Aku mengatakan bahwa mereka tak lengkap ketika awal tercatat lengkap.Namun bukan aku mengatakan mereka tak bisa membangunkan semangat langkah,tetapi sebenarnya dari merekalah aku belajar tentang setiap jejak yang perluh disyukuri dan dapat mengetahui dan kemudian memahami apa yang tak terungkap dan terlihat.