Terlalu Singkat Untuk Ditangisi

Gambar:foto sendiri

Kaki ini merangkak menjauh dari setiap peraduan tawa dan senggang.Di sana tak pernah ditemukan secarik kertas bertinta bahwa kita mesta berpindah dan harus diam.Namun yang hanya adalah perkataan yang menanding dan menyangkal bahwa kita berbeda dan aku bukan kita melainkan saya dan kamu.

Mungkin saat ini aku ingin mengajakmu menengok tentang tak ada rotan akar pun jadi.Bahwa kita mesti paham tentang polemik yang real tanpa harus berambisi mengata tentang asumsi dan narasi kata cerita yang sama membuat bingung.Ada sepenggal kisah yang mestinya kita sampaikan pada tunas muda yang ada di taman Eden,bahwa bukan ular dan buah kuldi yang menjadi penyebap dosa melainkan pergolakan molekul gagasan pada tubuh yang ego.

Haruskah aku dan kamu sepakat meretakkan kata kita,agar jumpa tak pernah digaungkan ? Dan oleh serupa malam suntuk ini,tak kita subuhkan dengan hanya berbicara analogi yang tak putus.Karena sejatinya aku ingin memaksa waktu tuk bergulir kembali dan mengubah alurnya,bahwasannya aku benci kebersamaan.

Kata yang hampir sepadan dengan alur ketakutan akan kebisingan setiap insan penyusun tubuh.Ada celotehan yang sesekali membuyarkan imajinasiku bahwa kamu baik-baik saja.Ataukah aku harus mengulangi rentetan nostalgiaku bahwa aku hanyalah seorang dan pencarian kesibukan diri ? Semua itu menjadi sebuah dinamika yang beruntun dan terpolakan bahwa semestinya langit tak selalu biru.