Kisah Malam Jumat

Gambar:foto sendiri

Kembali lagi dia menelanjangi paha putih miliknya,dan itu sudah keseringan hingga tak dapat kujarikan.Mungkin yang namanya dunia sedang bebas dan tubuh bugil juga ikut diberi ruang,sekedar ingin menghirup lebih leluasa udara segar.Malam itu,lampu depan teras rumahku sengaja dimatikan agar terlihat romantis saat memenorkan diri di muka pintu.

Mataku sempat berbianar,dan nalarku pernah mengata dalam perkiraan bahwa itu hanyalah kesengajaan.Mungkin dia mengumpaniku,atau itu bagian dari budaya kesendiriannya di malam yang suntuk.Mungkin juga tentang rembulan purnama yang lama tak membuka hingga ketidaksabarannya digombali berontak.

Ahhhh,aku masih sadar bukan ? Kesadaran yang mendominasi agar tak menepih dari pola yang terpolakan.Namun bukannya aku harus merayu pada setiap ekspresi dan gerakan yang sedikit merespon ?

Pernah kuberpikir tuk mencoba memahami.Namun ketakutan yang pernah terpikir akan merampas kondisi bebasku.Semuanya terlihat serba salah dan rasionalisasi,hingga amarah itu hanya tinggal meraung,dan kemudian sekedar menyiksa diri dengan setiap terapi jemari yang pegal.