Tentang Kehampaan

Gambar:Foto keluarga

Menukik setiap tumpukan kata yang berserakan pada trotoar rak buku perpustakaan.Namun tentang kata yang tak pernah kita sudahi selepas penat,namun terus menjadi candu dalam kegersangan keluh.Hanya ini yang dapat terlukis semenjak kepergian petugas perpustakaan idamanku.

Untuk sekian waktu,menit bahkan detik akan kujejerkan pada deretan kursi kayu di temani bangku berlapis kaca tembus pandang.Gerahan rasa yang mengumbar keluar tuk sedikit menengok wajah manisnya yang tak dapat kurangkaikan dalam setiap sajak bait puisi.Inginku pergi membujuk penyair terkenal yang pernah diceritakan olehnya,bahwa itu kakeknya yang lama terbaring.

Genggamlah tanganku dan kita akan mengarungi jalanan bebatuan yang pernah kakekku ceritakan sebelum malam membunuhku untuk beberapa saat.Tanpa beribuh komentar yang menggeliat soalah menimang setiap huruf yang terangkum kata dan kemudian kalimat darinya,kakiku lebih dahulu dipoyong.Yang harus kamu ketahui bahwa kita akan lama menghabiskan waktu di sana,dimana kakekku akan membusahkan mulutnya menyata tentang hidup yang tak seindah puisi.

Ia,demikian kataku selepas memuncratkan kata agar terlihat kekar berujar menahu.Ungkapan tentang yang tahu dan yang tidak tahu namun terlihat tahu.Ujaran demikian akan kamu pahami,bahwa mereka akan terlihat seperti budak kata dan tentang pecandu luka yang menunggu kewarasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s