Naluri Berkata

Pixnio.com

Garah yang terus menggerogoti kemudian memaksaku untuk pergi dan melupa.Memanggil bening langit untuk bersama menyapuh tapak yang membekas.Kita tak seharusnya menyata tentang tawa yang berkepanjangan namun juga tentang jenuh yang menciut.

Pergilah sejauh kaki kuat mengayuh sepeda ontel milik tuanmu.Carilah tempat yang paling sepi,hanya kamu sendiri yang menatap bugil dan indahnya seluruh pernak-pernik tubuhmu.Ada handphone yang selalu menjadi sahabat sohibmu,menonton video porno yang menggairahkan hati.

Bersandar di pangkuan yang setidaknya menyamankan jiwa di terik penakluk salju.Telanjang dada dan menatap dengan kosong pada kejauhan mata yang meneropong penat.Sesekali tangan diayunkan pada posisi strategis dan membuat ketagihan.

Semua menjadi milikku saat itu,melukai diri dengan suasana damai hati yang tak seharusnya di ajak minum jus mangga.Setidaknya menambah napsu lidah yang ingim memagut setiap insan yang mengganggu saat itu.Namun itu hanya ilusi yang berkepanjangan dan aku masih sendiri menatap tubuh bugil yang sedari tadi tak ingin aku kotori pada lumpur musim hujan.

Aku tak ingin terlihat dekil hanya karena napsu yang membanjir.Ingin kugoreskan tulisan pada kertas kusam bahwa aku pernah ke tempat ini.Dan pernah menanam benih yang sudah lama kumimpikan tuk kubenamkan pada dasar tanah yang menggundul.