Dari Trotoar Jalanan

Wysetc.org

Jalanan yang tampak ramai tak mampu membendung raga kalut.Trotoar menjadi tapak nostalgia rindu yang menghantarkanku pada perhentian di tepian jalanan itu.Untuk kedua kalinya aku masih ingin bersanding mengukir kenangan dari tepian trotoar yang telah berlalu.

Tempat paling menyenangkan ketika hati sedang gundah merana.Antara tawa dan tangis beda tipis saat itu.Ungkapan jujur pada yang bertanya tak sedetail senja sejenak memamerkan indahnya ketika malam redup merenggut pamit.

Trotoar tampak asing saat beribuh mata terpana melototiku.Usapan wajah galau kian mencolok hingga tak ada yang menertawakan ulahku malam itu.Sesekali menimang kata lugu yang berkata tentang penantian yang tak kunjung datang.

Genggaman erat tangan kemarahan menghardik suara lirih itu.Aku bukan menanti namun sekedar mengenang beribuh jejak yang telah tertapaki.Hingga tangis sekejap menjadi tawa ketika menghampiri trotoar jalanan sepi itu.

Dan untuk sekarang aku tak bisa berkata tentang nuansa rasa lain yang dapat menggantikan.Hanya trotoar dab trotoar yang memahami kegundahan hati.Entahlah sampai kapan,yang pasti kemarin dan saat ini masih trotoar jalanan yang mengajariku banyak hal tentang dari dan kepada.