Perihal Domba

Kompasiana.com

Waktu masih sempat menyisahkan bersitan cahaya pada lubang angin.Tentang perjalanan yang tak perna berbisa pagut akan kemunafikan.Aku masih ingin menjajaki kaki walau hati tak ingin menangisi beningnya tetesan yang merayap lembut.

Kaki yang pernah berdusta tentang jarak yang kuhampiri pada lekukan tapak tanah yang masih memberi syarat.Aku dikandungi oleh kata yang tak ingin kusandingi dengan gombalan pria-pria tanpan desa itu.Dia membisuhkan nalar kataku hingga tangan tak mahir merayap lembut merapihkan rambut yang tak sebenarnya disandingi.

Aku hanya keluh dari kekarnya hati dari seorang pemimpi.Dia tak pernah lalay dalam sajak yang tertuang pada pundi minyak,kemudian nyalah lampu dipagari dari tempatnya.Matanya melotot menerobosi malam yang tak selalu berbicara romantisme lugu dan khusyut.

Kemudian langkah ikut memagut lewat alur waktu.Pada kandang hina kupalungi bulir kata mujarab yang menggelagar selamat.Aku tahu jika semua karena Dia yang menyumbangi nadi tak gentar.