Malam Terakhir

Yang berambut panjang dan pendek berjejeran memenuhi bangku taman.Bercanda dan bergumam pada kesibukan mereka sekali memberi senyum ketus berasas beribuh makna yang terselip bujur.Aku menguap dan menyakiti mata dengan menggosoki dengan keras kiri dan kanan secara berirama.

Kata teman tetangga rumahku yang berteriak kencang sambil tergesa-gesa mengibasi wajah dengan dandanan paling indah.Memasang wajah berjuta ekspresi pada muka cermin yang menempel.Keraguan dan candaan gila yang selalu mematungi malam kesendirian di kamar.

Telingaku masih saja kulekatkan pada dinding kamar.Aku ingin mendengar bisikan dari rumah tetanggaku.Begitu antusias meniduri malam ini,kata temannya ini malam terakhir untuk bermingguan.

Aku tak habis pikir tentang jiwa yang merontah jika tak memaguti malam ini.Mungkin hidup akan terasa hampa dan singkat untuk tertawa dan tersenyum bungkus.Sesekali aku ikut bergumam akan malam yang akan aku pantulkan dari arah jendela kamarku.

Aku tidak lagi menjadi penonton story untuk malam ini.Aku ingin melototi mataku dari beningnya kaca jendela di lengkapi gorden putih kelabu.Mungkin hatiku seperti warna gorden dan bagaimana dengan hati beribuh pasang mata yang melototi malam dari peraduan remang-remang lampu.

Aku ingin berbicara lewat angin malam kepada beribuh mata.Mungkin mereka bisa menanggapinya lewat angin malam yang mengibasi rambut dan tersedot rongga hidung.Rasakan hatimu dan berbenahlah agar tak hanya raga rindu yang diobati melainkan jiwa setiap tapak kaki menuju bumi cerahmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s