Ketika Tawa Menyulam Duka

Amarahku ditenggalami hingga ke dasar jiwa yang tak dapat tercium.Namun siang itu perut keroncong mengumandangkan tentang gejolak rasa.Aku harus terbuka pada dunia yang saat itu pantas kuumbarkan.

Keluargaku yang mempunyai beribuh agenda hingga waktu tak perna bersetubuh pada kebersamaan.Meja makan dan ruang rekreasi menjadi simbol pelengkap dalam rumah.Mungkin ingin terlihat tidak ketinggalan seperti yang lain.Gadget menjadi sahabat dan teman sepi,kamar menjadi tempat yang paling damai dan hangat dalam keasyikan dunia maya.

Aku menertawakan keadaan yang tertampak seolah semuanya baik-baik saja.Kata orang hidup yang paling indah adalah kesendirian dimana tak ada yang mengganggu.Mau jadi apa dirinya itu yang terbaik karena hidup adalah pilihan dari pribadi.Mungkin mereka telah bosan dengan kebersamaan yang narsis,dimana urusan pribadi disibukan publik.

Dunia semakin terangkai indah,ada gejolak rasa yang bervariasi meliputi ruang hati.Ingin ku menangis tentang kebersamaan yang mulai bergeser oleh material dan orang ketiga.Semua menjadikan aku tertawa pada dunia agar tidak terlihat duka yang meluka.