Sejenak Menengok

Entahlah aku mulai jatuh cinta dengan dunia yang bodoh amat.Inilah yang terbaik buat dijalani tanpa harus merasa terusik.Dimana semua orang sibuk dengan aktivitas diri yang beragam.

Dan tentu semua akan terlihat indah dan unik.Lalu aku akan berlari sekuat ragaku dan berteriak dari atas bukit tertinggi di desaku.Akan kukabari tentang tanahku yang tengah hidup kembali setelah sekian tahun mati tertimpah kata penjilat.

Namun apakah aku sedang dalam nostalgia cerita orang atau sedang dalam ilusi yang tak berujung tuntas.Desaku masih peka dengan diri orang lain,hingga dirinya terlihat kusam tak terurus.Itulah keunggulan desaku yang masih memegang toleransi gila dari orang gila yang berkelana.

Mereka duduk berkelompok sambil bola mata ingin meneropong keluar dari porosnya.Menertawakan orang lain tanpa melihat diri yang banyak kutu busuk dan ketombe.Aneh yang dapat tergambar dari desaku,memanjakan mata dan bibir dengan hal yang senonoh namun bisu saat diajak berdebat sedikit ilmiah kusir.

Aku jadi lupa dengan semua kisah baik untuk menggambarkan desaku.Mungkin saja naluriku sudah dirombak oleh celotehan murahan dari tetangga.Aku tersenyum dan tak ingin terharu oleh kemelut itu,biarlah orang mengejekku pengecut.

Sesungguhnya aku kehabisan cara tuk merubah desaku.Aku terlalu bodoh dan picik dalam ide atau sebaliknya.Semua itu menjadi samar saat dobrakan kembali mengusikku.