Perempuan Itu

Boleh aku menyapamu pada malam yang gulita yang ditemani sebatang lilin kecil.Lilin yang diberikan pada sahabatku saat ulang tahunya.Tahukah itu,lilin rasta yang sudah puntung termakan tiga kali.

Mungkin kata tiga tak mampu aku jelaskan secara jelas namun itulah aku yang ditinggalkan pada tiga dan kosong hingga mencapai itu dirimu pergi memalingkan waktu yang nyata.Aku masih pada saty dan dua dan dirimu melambaikan tanganmu di saat itu pula.Aku belum sedikit menyedot air putihmu yang di sebut ASI pada payudara yang sejak lama dirimu imingi untuk tangan mungiku memegangnya dan bahkan mencubitinya seperti anak-anak tetangga yang kusoroti.

Semua itu mungkin hanya kukenang dalam setiap tapak kakiku yang sudah menjauh dari kata tiga dan kosong serta satu dan dua.Jujur aku benci matematika yang bermain angka.Aku tak ingin bernostalgia pada waktu itu.

Namun izinkan aku mengukir kenangan ilusiku tentang wajahmu dulu.Gadis luguh yang rupawan disapah Jawa dengan beribuh keunikan dan kisah yang mungkin tak seindah sinetron FTV.Gadis perawan itu menaiki tekad tuk pergi mengais kisah pada tanah yang mungkin tak lazim mata semua tertuju.

Dengan kelembutan menyapah hingga pria duda itu meminangnya.Tahukah itu bahwa luar biasa dirimu yang siap mengarungi dunia yang penuh duri.Dunia itu tak lama dirimu paguti hingga dirimu berkumpul bersama mereka yang saat ini melihat duda itu sendiri bersama ketiga anaknya.

Ibu,aku lelah untuk saat ini.Menaiki usia dewasa tak seindah yang pernah kudengungi.Aku ingin bersamamu saat ini,untuk menjadi bayimu yang abadi.Aku tak ingin mata ini melihat tangisan bayi dipelukan Ibu,sedangkan aku.Namun apakah semua itu akan terulang seperti dugaanku yang klasik ini ?