Izinkan Aku Memeluk Bumi

Nadi yang menghubungkan tali kasihku dengan bunda penyusu yang telah lama direnggut peluruh berdarah.Aku lupa dengan semua kasih dari pelukan hangat dalam palungan bunda penyusuh.Mungkin telah menjamur semua cita rasa duka yang membanjiri tubuh hingga semua terasa cepat mengairi gersangnya tubuh cinta.

Semua itu telah terlanjur kutangisi tanpa harus berontak dengan semua keluh yang menggunung.Aku tak ingin tertipuh oleh emosi ego yang membutakan mata hati dan pikirku.Aku hanya ingin merajut kisah pada semua dekade kehidupan tanpa harus menipuh diri dengan penipuan isu dunia.Aku juga tak ingin semua sejawatku berkata tentang rasisme dan radikalisme.

Seolah mereka tak ingin diriku memusuhi akhlak busuk mereka yang telah tercium.Namun sekarang apakah aku harus keluar dari tanahku yang memanas barah pistol.Mataku dipolesi dengan darah lipstik yang membeku hingga raut wajahku tak lagi berparas seperti sediakalah.

Kini aku ingin bereksperimen ke tanah yang mungkin bisa mengandungku kembali seperti tubuh dibentuk arsitek tangan besi.Mungkin tanahku telah rabun mata dan aus semua rongga dada yang telah menjalar kaku.Hingga aku dan sejawat dekil yang tertampak meraung membisu jiwa dalam dekapan pertiwi.

Mungkin semua tangisanku tak sedramatis pemain film hingga rapuh tak meranggas semua piluh.Dan sekarang aku dan sejawat telah lelah merangsang pulih yang tak bermadu legah akan kegersangan tanah peperangan.Semua itu menurutku dan sejawat akan membuat mataku sembap membengkak akan semua kebisuhan dan individual.