Penaku Tak Lagi Jomblo

Aku telah legah dengan semua ocehan itu,kini telah usai.Penaku telah pandai berkicau tentang gaya menarinya yang lemah gemulai.Telah berhasil mempengaruhi nalar yang terus merasuk sukma,bahwa penaku mandul bercinta.

Namun itu telah usai untuk diperdebatkan.Penaku telah berhasil membuat mulut-mulut itu membisu. Merangkai kata indah hingga mereka lupa bahwa pena yang nganggur itu mampu membuat suasana hati kembali mencair.

Nostalgia kembali berkisah tentang sampah yang menjadi tempat kumenemukan pena dan kertas kusam.Aku kembali memungut semua tumpukan kata sampah yang mungkin dapat kudaur ulang.Tentu bukan hal yang lazim untuk penggombal cinta.

Mereka hanya pandai menjilat pada tumpukan sampah restoran cepat saji.Tak ingin mengulas dari percikan mulut-mulut insan dunia.Aku menelusuri sajak demi sajak yang tentu tak kutemukan cacat celah.

Bukannya penaku ini perna menari menepih pada garis pembatas ? Namun tidaklah menjadi hal yang fatal buatku merenung.Aku perna didongeng oleh tuan puisi dari berabad silam pada kumpulan puisi kuno miliknya.

Ia berkisah tentang patahnya pena kesayangannya,yang perna mengajarinya luka dan pulih.Tentang pahit dan manis kata yang ditidurinya saat ayam bersahutan menggema.Sesungguhnya pena itu harus bermula dari salah,agar benarlah pilihan keduanya.