Ada Keluh Syukur

Berangsung waktu dari tapak yang telah terkibas jatuh pada puing-puing sampah jalanan.Telah kuterobosi naluri kemalasan pada selimut kehangatan.Kumandikan diriku dengan setiap butiran tetes segar yang menyadarikan diri.

Aku harus berujar tentang beribuh bisa bisingmu yang menggelegar hingga mata kantuk kebodohanku terdesak.Apa aku harus berkata kasar tentang semua itu,tentang dirimu yang membuatku tergesah dari kelalaianku yang merangkak ? Namun semua telah terlanjur terhunus oleh penindasan atas kemunafikan dan ketidaktahuanku.

Mataku terpejam oleh keluh terakhirmu dalam sebuah perguliran waktu.Untuk saat ini kita bersimpul putus dalam alur ini.Namun tidak demikian untuk celotehan dari luar sudut ruangan,yang berkata sebagai orangtua dan anak.Aku telah berunding dengan waktu akan hari esok yang mengabariku tentang riuhnya perjuangan yang berujung kebahagian.