Mata Jemari

Jijitan kaki merekap jejak tentang kesetiaan yang tak direkayasa.Mengatup mata dengan jemari menganga mengulas senyum manismu.Menambah kegelisahan hati saat itu,namun diriku menatap lekat pasif.

Aku bukan raga yang menganggap hal demikian konyol namun kemustahilan yang dapat kukagumi dalam naluri jiwa terdalam.Aku tak pernah mengumbar kenangan tentangmu dengan waktu yang belum padat isi.Inginku mengulang itu saat kita tak lagi menahan spasi dan mata tak lagi enggan menyentuh.

Akanku rasakan mata hati yang lama kupendam.Kubelai dengan ragaku yang tak semua miliki.Caraku sederhana namun cintaku padamu luarbiasa.

Semua itu tak dapat disamakan dengan madu pohon dan gua yang semua dapat cicipi.Tak ada pemilik yang menjadi tuan rumah dalam nutrisi kental itu.Malahan semutpun dengan leluasa mencurinya dan kembali menceritakan itu pada sejawatnya.

Tidak demikian denganku,kudebarkan itu sendiri dalam hati dan kukalungkan pada diksi yang tak sepuitis cinta kita dalam diam.Namun tidaklah salahnya jika kurangkaikan agar kisah kita terekam oleh kata dan jejak waktu.Dan tentunya kita akan mengukirnya kembali saat cincin kubalutkan pada dinding hatimu agar tak mudah dileceti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s