Kepompong Itu

Kamu yang pernah kupuja dalam kekalutan jiwa yang beku.Aku ingin menemukan bayanganmu dalam bayang malamku,disana hanya kita berdua yang berselimutkan kelam sepi.Dalam kema sempit nan sejuk bermandikan kabut dan guyuran hujan dari luar sana.

Kamu memanjakan tubuhmu dengan sengaja berleluasa di alam bebas.Tak kuasa menahan hasrat,tanganmu mengenai tuan mudaku yang ingin meraung haus dan lapar.Kamu adalah kepompong yang masih bersembunyi dalam palungan kulit bawang merah.

Pedas namun berasa sedap ketika lidah ini,dengan liar bermain manja pada palungan lentik itu.Gunung kecil kepunyaanmu meronta dan mengaitkan lidahku pada kedalaman daging memekmu.Aku tak kuasa menahan pergerakanmu yang meremas kencang tuan mudaku.

Katamu berbisik,bahwa diriku tak tegah melihat dirimu kehausan oleh batang kekar milikku.Katamu lagi,bukannya tuanmu pernah kulumat habis saat malam kemarin.Aku kaget dengan beribuh haru,dirimu telah dahulu meloroti kulitku.

Namun semua itu kembali menaungi lubuk hati yang mendidih,aku harus menari pada tubuh telanjangnya.Dia telah lama mencopoti kulit kainnya,dan memalingkan wajahnya pada wajahku.Aku dibuat terangsang oleh polesan merah muda diujung memeknya,pikirku dia masih manis dan lentik seperti kepompong.

Aku menikam bara tuanku pada palungan hatinya,desahan penikmat terasa melingkupi isi kema.Ada aliran bening yang kemudian membasahi pipih montok miliknya,darah basah melumuri tuanku.Aku haus oleh kepompong muda,kubaluti dengan tisu dan genggam erat dan kukatakan bangunlah sayangku pagi telah menyapamu.