Hujan Berkisah

Aku masih di sini menunggu usainya rintik dari langit,namu aku tak ingin pula hati membara dalam kenangan.Aku ingin berakhir dengan gundah yang berlabuh pada pelabuhan cinta.Pernah aku mendengar cerita dari kakak sulungku,tentang cinta perahu kertas.

Ada sepasang kekasih bayangan yang bertamu pada semilir angin dan muaranya sungai putih.Mereka tak saling mengenal,bahkan mimpipu tak pernah hadirkan makhluk aneh itu.Tak ada hari tanpa bersereruh pada tepian sungai,tepian yang berkicau tentang bangau yang bercerita dan bermadu cinta pada rerumputan hijau.

Namun aku tak ingin semua itu terjadi padaku.Aku benci dengan cinta yang secara tiba-tiba,bahkan membuat amarah memuncak dengan perebutan perahu kertas tersebut.Aku ingin bernalar tentang cinta yang tulus,bertemu saat usia dini dan akhirnya lama merasuki hati muda merona.Mungkin semuanya akan menjadi kenyataan,tetapi kapan waktunya tiba.

Hariku telah dilalui dengan tawa dan hiruk pikuk desa yang asri.Aku mempunyai sahabat kecil yang kocak dan menjengkelkan,dia selalu membuatku mendidih amarah hingga tawapun tak pernah hinggap kala bersamanya.Aku pernah meminta orangtuaku untuk pindah dari desa ini,inginku pergi jauh dari dunianya yang jahil.

Orangtuaku kemudian,dengan berat hati mengiahkan untuk pindah dari desa itu.Hidupku menjadi begitu leluasa dan bahagia,dan aku mempunyai banyak teman yang baik dan perhatian.Waktu terus bergulir hingga lupaku tentang masa lalu kian menggebuh.

Tak terbayangkan tentang ketergesahan hatiku yang tak bosannya merindu tentang senja.Aku menari pada hamparan padang di bukit penantian itu,di atas batu galian entah sejak berapa lama.Aku betah dengan suasana yang memanjakan mataku.Ada seorang pria yang bersyair tentang cinta yang tak kunjung tiba.

Pria itu,tak pernah lupa dengan janjinya pada subuh dan senja.Dia dengan leluasa bercumbuh pada cakrawala,dan sesekali berkelana dengan keasyikan sendiri.Aku memperhatikannya dari jauh dengan kekaguman dan kebingungan.

Entah apa yang membuat dia begitu menjadi kelihatan aneh dan gila ? Aku terus menggelitikinya dengan saksama,hingga aku terjebak oleh mata yang tajam melotot darinya.Kami akhirnya menjadi tercengang dengan perpaduan dari sorotan mata,ada juga sulaman senyum yang ikut tersimpul dalam panorama itu.

Aku dan dia menjadi begitu dekat saat itu,ketika nalar penasaran mengaitkan kami untuk mendekat dan mengayunkan tangan kekar tuk menyapaku dalam dekap.Aku tersipuh malu dengan semua kekaguman yang tergambar,hingga gegabahlah kuperlihatkan.Alur waktu sepakat kami santapi bersama dengan kebersamaan mesra.

Pagi itu aku sempat berpikir untuk tak ingin bangun dari mimpi malam yang indah.Mimpi malam tentang lumatan dari bibir cueknya,yang tak ingin aku palingkan.Aku ingin mencintai dia dalam nyataku,bukan dalam bayang dan mimpi.Namun tidak apalah,mungkin karena ingatku melampaui egoku hingga mimpi demikianlah yang bertamu di lelap malamku.

Malam selepas senja,mendidihkan tubuh pada kesejukan yang mencekam.Aku dibelai oleh tangan yang lama kulepaskan,ketika egoku memaksa untuk pergi dari desa.Kini dia kembali menyegarkan rasaku,hingga malamku dipenuhi remang-remang benderang seumpama lampu pohon natal.Lumatan dari bibirnya menari liar pada leher dan payudaraku,aku menikmatinya dengan haru.

Rangsangan yang menambah semua gairah malam itu,saat buluh-buluh halusnya memanasi tubuhku.Kekenyalan yang kurasa saat sentakan bokongnya menikam dalam daging selangkanganku,desahan berseteruh dengan suara isakan dari film porno di dinding kamar.Lidahnya yang liar menari lahap pada lendir daging selangkangan,kami saling menukar membentuk poros 69.Aku lemas,dan kami saling meneguk laharan kenyal itu,puas dan legahlah kehausan rasa kami.