Koalisi Tetangga

Perna terlintas dalam benak tentang sebuah fenomena yang barangkali membuat diri ini merasa tersaingi dan cemburuan.Kalian merasa semua ini hanyalah kepura-puraan yang tidak membuahkan hasil,namun tidak bagiku.Aku mencintai pola demikian,aku juga tidak perna takut dengan orang yang menolak kualisi.Menganggap kualisi adalah pola halus dari nepotisme,mereka adalah orang munafik yang hanya memamerkan raut sangar namun hati terasa cemas.

Mengapa kita Indonesia melarang nepotisme,karena ada pola regenarasi yang ditanamkan sejak zaman penjajahan hingga sekarang.Bagi orang di luar zona itu,akan merasa marah dan tentunya menolak hal tersebut.Sebenarnya hal yang lumrah untuk kita,mereka demikian karena kecemburuan yang mencekam pada benak mereka.Mereka tidak di dalam alur itu.

Nepotisme sesungguhnya sama halnya dengan politik identitas,mementingkan keluarga dari pada yang lainnya.Apa yang menjadi hal yang luar biasa,jika pelaku nepotisme tersebut salah memasukan keluarganya dalam bidang dan basic yang salah,tidak sesuai dengan skill atau kemampuan orang tersebut atas jabatan yang diembani.Apakah kita akan menolak dan kemudian melakukan demonstrasi,jika orang dinepotisme tersebut mempunyai kemampuan dan skill yang handal sesuai dengan jabatan tersebut ?

Kita harus lebih jelih dalam melihat dan mengkritisi hal-hal di sekitar kita.Yang menjadi isu dan pandangan buruk dari publik,belum tentu salah 100 %,demikian juga dengan isu dan pandangan yang baik dari publik.Semua itu,tergantung situasi dan pola sikap yang kita ambil,tergantung juga dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Ketika kita berbicara mengenai demokrasi,tentu kita akan mengatakan yang paling benar dan baik dari nepotisme.Ya,namun kita harus melihat setiap sudut pandang.Demokrasi adalah dimana ada dari,oleh dan untuk rakyat.Namun apakah semua itu baik dan benar adanya ? Demokrasi dimana masyarakat diberi kebebasan untuk memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nurani dan kebebasan,masyarakat telah mempercayakan kepercayaannya kepada orang tersebut agar keluhannya dapat didengarkan dan tentunya dapat mewujudkan.

Namun semua itu,hanyalah formalitas yang bergulir dengan mulusnya di atas penderitaan masyarakat.Masyarakat yang miskin dan minim pengetahuan dibohongi oleh orang pintar dari anak bangsanya sendiri.Lalu sampai kapan,mereka ditipu ? Apakah mereka harus mencari pemimpin di luar anak bangsanya ?

Malang,25 Oktober 2019

#Eduardus Bela Jawa Lajar#