Suara Bocah

Suara yang sempat mengeluh dari tangisan menyayat.Dia yang telah kami harapkan telah terlampau lupa oleh kemelut rasa.Berkelana dengan ego dan napsu dunia,hingga lupa artinya bersyukur.Aku tahu,jika semua itu ditekan oleh suara rintihan dalam gubuk.Namun dapatkah ratio cinta yang bijak menguasai dirimu,yang selalu berkata tentang kejujuran dan kesederahanaan.Aku hanya membutuhkan dirimu yang pernah dikenal oleh bunda.Ketulusanmu dalam mencintainya hingga jemari mungilku menyapa dunia.Aku tak menyangka tentang rasa yang palsu dengan selembar uang.Tak punya waktu untuk bersenda gurau kala tangan masih digenggam.Namun aku tak bisa menyalahkan,hanya inginku kamu bisa kembali pada sikap dulumu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s