Kursi Tua

Dari Keluh dan keringat yang sempat membius raga,kusulamkan nada bahagia padamu ayah.Duduklah dan nikmati pesonanya dunia dari jerih paya.Kekaguman dariku tak sebanding dengar rasa cintaku pada seorang gadis perawan.

Luar biasa cinta yang dapat kami rasakan akan makna dari sebuah perjuangan.Setiap kata yang seindah sekali pun tak mampu menggambarkan semua kisah yang pernah kita rajut.Tentang beribuh kasih yang sempat membumi di gubuk kita,yang ikut kita padukan dalam sajak pagi dan malam di ruang makan.

Katamu tentang komitmen untuk bisa merubah hidup.Saat ini,anakmu masih menganggur dalam pena yang terpola.Hingga kita tak saling menunda serpihan pepatah semangat yang masih dipending.Aku masih belum menemukan sendok yang akan kita rajut bersama,aku masih meminjam sendokmu.

Kabari aku saat kita masih saling menatap,agar keluhmu dapat aku lunasi dengan penah yang menari.Setidaknya namamu dapat aku rangkai dalam kata kuno milikku.Semua itu tak seindah dari apapun dan seburuk hati dari sang pematah hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s