Rumput Hijau

Pernah kita beradu dalam sanubari kala terik menggerogoti.Hentakan kaki menghantarkan kita pada nuansa kesejukan di bawah rimbunan rindangnya pepohonan dan hijaunya rerumputan.Kita membagi kisah seirama lambayaian daun dan menarinya rumput mungil.

Kamu sempat kudengongkan hinggal lelap menjadi kisah mengharukan.Kamu memberikanku berkelana di bahu dan jemariku menari lembut pada pekatnya rambut halusmu.Ada sepasang mata yang bertengger selalu menambah ringanya suasana saat itu.

Burung terkukur yang masih memberika keindahan,kita tidak sedang bermimpi tentang pekatnya dunia.Kita sedang terhibur oleh beribuh rupa dan cita,tentang seribuh makna perjumpaan yang tak sengaja.

Lama saat itu,membuatku menunggu untuk beberapa saat.Aku belum berkenalan denganmu,wajahmu indah dan tentu matamu memberikan keteduhan.Kamu membuatku lupa menolak bahuku untukmu bersandar,karena dadaku dibuat terbuai oleh rasa sayang.

Kamu mungkin tak menyadari,namun wajahmu selalu kubayang walau hanya dalam sekejab pandang.Aku hanya mengetahui asalmu,dari dialek khasmu.Aku menunggu waktu meminangmu agar akulah pelarianmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s