Dadaku Meronta

Saat itu debaran yang terasa paling cepat di setiap hari-hariku.Apakah pertanda mereka sedang mematroliku dari posisi aman mereka.

Aku begitu merana dikesunyian paling kencang dan dahsyat.Ada mereka yang terus menjadi pagutan rasa buatku.

Aku terpanah oleh setiap sorotan mata yang berbinar.Ada dia dan mereka yang akan menjadi kaca kuberias.

Mereka sedang menggelitik ingin mencari tanya yang sempat aku renungkan.Kita bersama menjadi rasa dalam setiap debaran yang mungkin sama pula.

Aku legah dalam kesunyian hati yang telah terungkap.Aku diingatkan oleh masa lalu,pada suatu terik yang mendung.

Aku berlinang lewat sekujur raut wajah.Ada penyesalan,dan sakit yang akan menjadi keputusanku untuk berhenti.

Ya,waktu itu aku masih dalam raga polos nan luguh.Belum ingin dinodai oleh kesialan.

Aku menyebutnya demikian lewat alur hati yang terbaca.Mereka pasti merasakan itu pada setiap debaran yang aku ritmekan.

Cukuplah aku dilanda kerinduan sepih di masa itu,namun sekaranglah menjadi tapak baruku untuk merintis kemenanganmu.Sebenarnya aku telah betuntung untuk menjadi pemula dari dekade perjuangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s