Aku Masih Mencari Pintu Itu

Aku masih berkelana di alam luas yang sedari tadi aku bingkisi dengan aroma pagi yang sejuk.Mencoba menepih pada seonggok rasa yang kian menggebu.Aku ingin berteriak dan katakan pada dunia bahwa aku masih labil,aku mulai puber dan aku ingin mencari diriku dalam diri mereka.Apakah itu yang telah aku dengar disetiap dekap malamku,diceritakan oleh malam gaib romantika diskotik.Mereka bercumbu dengan ganasnya sambil merangkak lemas.

Mereka meneguk dengan penuh kehausan dalam kedalaman dahaga.Penuh kecemburuan aku maknai pada saat malam mulai bersamaku menengok indahnya aku ditelanjangi malam.Aku lemas dan penuh kesan pertama,nikmat.Mereka menertawakan aku,mencibirku dengan liur belepotan di setiap dada yang berlekuk.Aku haus dengan darah dan susu,ada campuran yang sempat dituangkan pada tubuh bugil itu.Aku diajaknya untuk menyelami butiran air yang masih menempel kilat serta licin di dinding pengurbanan itu.

Yang lain sempat merengek,ingin dicumbuh pagut kencang olehku.Saat itu,aku sempat menjadi pusat perhatian.Bangga diriku,telah menjadi motivator serta publik figur dalam remangnya malam itu.Inilah yang sedang aku cari pada masa tunasku ini.Aku masih meraba pada pusara hampa itu,tentunya aku masih di penghujung malam minggu akhir sekolah menengah atasku.

Aku bertekad untuk berbaris pada subuh itu,ingin menimbah dinginnya butiran embun itu.Mencoba membersihkan diri pada malam tidurku itu.Aku mencoba menyusuri lorong itu,penuh dengan lampu lilin yang dipasang di dinding jalan itu.Aku mencoba berlaju pada langkah pertama,ada tekanan diri untuk mundur dan mencari remangnya malam yang menggiurkan itu.Aku di dorong oleh kata semangat,aku mendapatkan dinding ungu.Tentunya tempat orang Indonesia bertamasya dalam syair kata dan retorika dari nalar stadium emapat kata seorang pendahulu awal bertengger mesrah pada ungunya dinding itu.Aku menyapa dan disapa oleh waktu dan lagu.Ada gubuk kecil aku diajak berkunjung temu.Mereka menyapanya dengan Aquinas,ada pelanginya kultur Nusantara,penuh beragam dan dikumpulkan untuk beradu bicara tentang arti kekatolikan,fraternitas dan intelektual.Aku dilebur dan diremas oleh egonya yang penuh kenikmatan malam itu.Aku berubah dari pijatan tiga tiang.Aku menjadi indah dengan rangkaian dialek sendu pada bibir merah,dicumbu aroma pekat kopi kami menang karena kami pernah mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s