Indonesia Adalah Skenario Perfilman

Bukan tidak mungkin dan tidak salah,dari pelosok sampai kota metropolitan sekalipun cukup lihai dalam berekting.Apakah Indonesia banyak belajar tentang perfilman holywood sehingga nampaknya dapat mengambil sarinya dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari bahkan perpolitikan.Tidaklah heran jika tanah beribuh kekayaan yang menumpuk ini,cepat atau lambat digerus habis tanpa ada perubahan yang signifikan.Entah itu,digerus oleh negara adikuasa lainnya yang memanfaatkan politik dagang,ataukah putra-putri Indonesia sendiri yang akan memagut habis.Sebenarnya semua ini,masih dalam skenario yang terstruktural fungsional.Apakah orang yang demikian tidak memiliki unsur kedewasaan yaitu,spiritual,emosional dan intelektual.Atau saja,tidak pernah belajar tentang interaksi dalam teori interkasi simbolik yaitu mind,self and society.

Namun hemat saya,tidaklah demikian pengaruh yang mendasar akan sesuatu perpolitikan yang berskenario lapisan ketujuh bercahaya emas ketamakan.Lalu apa yang menjadi sisi benar dan salahnya.Saya begitu prihatin dengan pemerintah milenial sekarang ini.Mengapa dikatakan pemerintah milenial,karena hidup di zaman serba cepat dan tepat.Maka semua strategi untuk menghantui masyarakat sangatlah indah bak kembang bakung. Peristiwa disamakan dengan metode peminjaman “galih lubang tutup lubang”. Semuanya telah dikemas sedemikian rupa megahnya.Tidak tersisa celah kecil,walau hanya untuk perjalanan angin sepoi.Kasus yang beruntun itu,mempunyai kaitan yang begitu erat,pandai menutup kesalahan dengan mengambil jalan lain yang sebenarnya begitu indah.Dari kasus Papua,kebakaran huta Kalimantan dan memuncak pada Revisi UU KPK.Namun mengapa mahasiswa masih menyuarakan itu,sedangkan kesigapan pemerintah dalam meminimalisir kebocoran telah dibuat pasti.

Bukannya saya mengajak untuk tetap terbungkam oleh ketamakan dan penderitaan yang dibuat oleh pemerintah.Sebenarnya,kita harus lebih kritis dalam melihat situasi,setelah itu mulailah untuk mengkajinya.Demikianlah hal yang perluh kita lewati agar tidak terkesan kosong otak,bermodalkan fisik.Hal ini yang perluh kita hindari,agar pemerintah dan setiap aparat keamanan tidak berbuat bejat kepada kita.Alasan mengapa kita ditembak dan dilukai oleh aparat,kita tidak berlandaskan intelektual,dan malah menggunakan kekerasan fisik.Demikianlah kita ketahui,maka berubah dalam mengambil setiap sikap,janganlah menjadi bodoh dan dungu dengan diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s