Ketika Itu

Dimana surya menampakan wajah ceriah menyapa pagi di puncak Duyung Trawas Hill.Bolehkah aku kembali menengok pagi di tempat yang sama saat nyatanya berlanjut mimpi.Poleskan hari ini,dengan sejuta kata dan sepenggal senyum yang teruntai.Kita masih dipusara pijakan yang sama.Pancasila pelekat dalam tekad,canda tawa yang sesekali terdengar oleh dia yang kala itu menjadi pengamat kata.Dari jauh kupandang dia yang dengan lihai memagut seisi bumi dengan ketikan pagut.Menyiksa saat kata itu,begitu sempurna ia maknai lewat setiap tatapan dan anggukan menatap.Aku mau mendekati dia,namun apakah tidak mengganggu diamnya dalam merangkai.Sembari tersenyum dan termangu oleh setiap barisan rapih gigi putih dan lembapnya bibir itu ditetesi liur dari lidah lentik selentik mata yang memesona.

Katanya seusai itu,mengungkap lebay ala sinetron remaja.Dia mengagumi wanita berkerudung krem,kacamata bundar putih zaman now.Hahaahha,agak lebay ya ketika pembicaraan diselah gerahnya hawa sekitar yang mengelinap.Senyuman gadis berkerudung krem,yang merangkaikan tentang sebuah makna kesempurnaan.Kita masih berada dalam ruang nyata,lalu mengapa gambaran berepisode.Indah dan menakjubkan pembicaraan kami saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s