Masa Lalu

Kelam perjalanan yang dilalui oleh sang waktu yang memberi pertanda tentang sebuah arti dari pengorbanan cinta yang terbagi.Ada sepenggal aroma manis yang sempat teringat namun lebih banyal pahitnya.Itulah kisah dikala minimnya cinta yang aku rasakan.

Lebih banyak mencari kesenangan sendiri di luar rumah tanpa harus memberi sedikit waktu untuk bercerita dan guyon bersama.Mungkinkah dunia luar rumah lebih menjanjikan atau apa yang membuat kita semua tidak mau menyatu namun lebih memilih memisahkan diri dari keramaian.

Sayangnya aku saat itu,begitu merasa akan semua kenyataan pahit yang terus saja ada dan dengan begitu banyak metode yang tercipta.Adegan terus menjadi panggung sandiwara belaka yang terus tersenyum walau hati ini sedang dibakar bara.

Meronta sendiri batin yang tersiksa sekian lama,menjadikan aku tumbuh menjadi pribadi yang penuh dengan dendam dan amarah.Sebenarnya semua itu yang menjadikan aku berpikir menjadi seorang pembunuh dalam selimut sendiri.Nekad dan buta pikiran serta hati yang menjadikan semua itu indah dan wajar saja jika terjadi.

Namun itu semua menjadikan aku kembali bergerak dan beranjak pergi agak jauh.Proses kepergian itu tidaklah membantu aku untuk berbenah dan insaf.Terus ada yang mengasah amarah ini untuk terus tajam dan siap sedia kapan untuk mengiris setiap kejadian.

Polemik yang melatari pendewasaan itu kian memanas dan bersemangat.Tumbuh kembali rasa itu,ketika semuanya merasa aku ini berbeda dan aneh di mata mereka.Bahan ejekan dan hinaan dari bibir orang yang merasa bahagia di atas penderitaanku dan suci serta sempurna dari penglihatan.Sungguh menyedihkan rasanya jika terus dipojokan dan merasa beda sendiri dari mereka.

Merasa diri paling benar dari yang lain

Situasi demikian yang terlanjur aku geluti sebagai bahan pendewasaan.Kesadaran akan hadirnya sosok Tuhan yang,bahwa tidak perna memberikan tantangan di luar kemampuan kita adalah yang baru tersadari.Menjadi bangga disaat derita itu belum sempat usai.Namun tetaplah aku untuk terus bersyukur atas masa lalu yang kelam itu yang sebenarnya harus terkubur tidak membekas dari penglihatan dan sentuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s