Rabu

Rasanya aku baru pertama hadir dalam kehidupan

untungnya sekarang aku sadar tentang hal ini

kejadian di mana aku yang seumpama kertas putih tidak berkusut terbaring pada sebuah pembaringan mungil

namun di mana tempatnya seorang yang berjasa itu berada

aku belum merasakan hangatnya tubuh itu

tubuh itu pasti sedang terbaring letih menunggu panggilan Sang Waktu

menangis merontah tidak bernada do sampai berapa oktaf pun tidak terdengarkan

apakah suara itu tertelan pada tubuh yang letih dan kesakitan itu

pergulatan yang tidak berhasil penuh dengan kenangan pahit dan manis dalam diri bayi kecil saat beranjak dewasa

Engkaulah yang paling memahami perasaan ini

Rabunya aku dan Engkau ibu selalu terkenang

aku mencintaimu Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s