Politik dan Uang

Berbicara mengenai politik dan uang adalah sebuah hal yang tidak lazim lagi untuk dibicarakan.Hal demikian mendasar yang menimbulkan fenomena ajaib.Mengapa ? Karena fenomena itu sangat kreatif dengan berbagai taktik dan strategi handal untuk mendapatkan sesuatu.

Apa yang menjadi kepentingan seseorang akan dengan sigapnya menggunakan metode apa saja untuk memerangi sesuatu yang menjadi penghalang dalam mencapai tujuan tersebut.Ketika kita melihat hal yang demikian,kita begitu simpatik dan terobsesi juga bahkan tergoda untuk mengetahui hal yang demikian.Terkadang sebagian orang merasa hal yang demikian merupakan sesuatu yang biasa namun sebagian lagi merasa luar biasa.Persepsi yang berbeda demikian menjadikan kita sulit untuk mengetahui kebenarannya.

Strategi dalam politik menggunakan uang demikian karena mempunyai pengaruhnya yaitu,gengsi dan tuntutan dari partai politik untuk memenuhi persyaratan.Persyaratan yang mumpuni dan memeras demikian membuat para calon berusaha untuk merebut kekuasaan dengan tujuan mengembalikan modal saat dipilih nantinya.Mereka merasa terkuras sehingga tidak heran,jika pada saat terpilih tindakan korupsi akan terlaksana dengan indah dan lancar.

Hal lainnya adalah gengsi,setiap orang berlomba-lomba untuk memamerkan jumlah uang mereka.Sebuah pandangan dan pemikiran masyarakat dalam melihat adalah, “dia mempunyai banyak uang(kaya) tidak mungkin korupsi lagi nantinya,maka kita pilih saja dia”. Dia sudah kaya tidak mungkin korupsi lagi. Saya merasa lucu bercampur sedih dengan masyarakat yang berpikiran yang demikian. Masyarakatku yang tercinta sadarlah itu bahwa kita sedang ditipuh. Kritisilah itu dan pahamilah bahwa uang sebanyak itukah dipunyai mereka.Memang ada sebagian calon memang mempunyai uang yang demikian banyak.Namun,mereka juga pasti mempunyai rasa tamak dan tidak puas pada diri,sehingga sangat wajarlah jika mereka juga korupsi.

Partai yang memang pada dasarnya mempunyai standarisasi,sebenarnya tidak salah.Wajarlah jika sebuah lembaga mempunyai itu.Tetapi,perluh dianalisis bahwa salah satu point standarisasi yakni memaparkan juga jumlah penghasilan merupakan sesuatu yang tidak relefan dengan kepemimpinan. Bagaimana jika,seseorang mempunyai cita-cita yang besar untuk membangun namun mempunyai penghasilan yang minim atau kecil tetapi karena tuntutan dan gengsi maka dia harus meminjam uang.

Hal-hal yang demikian itulah yang membuat orang terjerumus dalam tindakan korupsi.Mereka mau melunasi utang mereka saat proses kampanye. Mereka tidak bisa diam begitu saja karena memang hal demikian yang harus mereka lakukan untuk melunasi.Mereka bisa saja memaparkan dan juga menagkahi proses kampanye dengan hasil mereka yang seadanya.Namun karena pandangan dan penilaian masyarakat bahwa orang yang penghasilannya kecil jangan kita pilih karena setelah dia menjadi pemimpin akan korupsi atau dengan kata lain dia mau memperkaya dirinya dengan menggunakan cara ini yaitu dengan memimpin.Demikianlah seseorang mengusahakan berbagai cara untuk menghilangkan atau mengelabui pemikiran dan pandangan masyarakat tentang hal demikian.Oleh karena itu,sebagai masyarakat harus pandai dalam menganalisa dan mengkritisi berbagai fenomena dan juga sebagai calon pemimpin janganlah malu dengan penghasilan yang kecil karena jika anda ingin untuk meminjam agar diketahui kaya.Namun pada kenyataannya tidak,kasihan kalau nantinya anda tidak terpilih. Dengan demikian proses kampanye,lakukan dengan sederhana dengan menggunakan media yang ada yaitu,cetak dan sosial dengan tujuan menghemat biaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s